yume ga areba michi wa aru

sebesar apapun mimpimu pasti ada jalan keluarnya


1 Komentar

Pembelajaran Luar Ruangan Sebagai Jalan untuk Merumuskan Identitas Bangsa

Belajar di luar ruangan

Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah akan tetapi masih saja tergolong negara yang belum maju. Krisis identitas bisa jadi menjadi salah satu faktornya. Manusia Indonesia belum sadar sepenuhnya dimana mereka hidup. Mereka belum mengenal gunung, hutan, sungai, pantai danau, sawah dan kebun di sekitarnya. Salah satu buktinya, berbagai bencana alam yang datang masih saja bangsa ini gagap menghadapinya. Gunung dan hutan dirusak. Sungai, pantai dan danau tercemar, pantai diurug untuk dibuat pemukiman real estate dan tambak. Banjir terjadi karena curah hujan Indonesia yang tinggi dan perubahan iklim global. Alih-alih menyalahkan kegiatan manusia yang tidak ramah, malah menyalahkan alam yang lebih dulu mendiami bumi ini. Wajar saja ketika bencana timbul dari berkah melimpah yang tidak disyukuri, seperti pepatah tikus mati di lumbung padi.

Mengutip dari salah satu penggiat kegiatan Outdoor Kang Aat Suratin, sebelum bangsa ini dapat merumuskan identitas bangsa, haruslah mengenali lingkungan sekitar dan mencintainya. Mencintai lingkungannya timbul dari manusia ketika bersentuhan langsung dengan alam, seperti yang telah disebutkan sebelumnya. Jepang dikenal sebagai bangsa yang pekerja keras, bangsa Korea dengan Korean pop walaupun ternyata mereka bekerja lebih keras dari jepang. Lalu Indonesia dikenal dengan apa ?? anda bisa menjabarkannya sendiri.

Menurut Harsono (2011) metode Outdoor study atau pembelajaran luar ruangan adalah metode pembelajaran yang mampu memupuk kreativitas, inisiatif, kerjasama dan mengakrabkan siswa dengan lingkungan sekitarnya. Banyak hasil karya manusia yang mencontoh dari alam. Bahkan manusia menguburkan sesama di tanah awalnya belajar dari seekor burung gagak. Sikap saling tolong menolong dan kerjasama dalam tim akan lebih terasa dalam kegiatan di luar ruangan. Toleransi terhadap sesama  dapat dilatih di kegiatan luar ruangan, setiap anggota dapat merasakan ketika anggota lainnya kesulitan dan membutuhkan bantuan.

 Orienteering – Praktikum TPTA

Orienteering sendiri adalah salah satu olahraga yang menggunakan peta dan kompas untuk mencari satu titik di lapangan. Dari jenisnya tidak hanya dengan berlari saja (foot orienteering) akan tetapi bisa juga menggunakan sepeda, motor, mobil dan bahkan di negara empat musim menggukan ski untuk mencapai titik/point. Biasanya peserta diharuskan untuk menyelesaikan serangkaian titik dalam rute tertentu, sedangkan pemenangnya adalah peserta yang dapat menyelesaikan rute tersebut dengan catatan waktu tercepat.

Organisasi internasional yang mewadahi kegiatan olahraga ini  adalah International Orienteering Federation (IOF), sedangkan di tingkat nasional Federasi Orienteering Nasional Indonesia (FONI). Beberapa waktu yang lalu Wanadri melaksanakan kompetisi ini dengan nama Wanadri Orienteering Games. Memang dibandingkan dengan marathon olahraga ini tergolong kurang dikenal di Indonesia walaupun sebenarnya sudah sekitar dua dekade kalangan pecinta alam mengenalnya.

Salah satu dari kegiatan praktikum dan penelitian mata kuliah Teknik Pengawetan Tanah dan Air (TPTA) di Fakultas Teknologi Industri Pertanian adalah pengukuran erosi dan limpasan permukaan di lapangan. Adapun tujuan kegiatan kali ini adalah mengunjungi lahan yang rentan terkena erosi dan mengenalkan plot erosi yang dikelola oleh penulis dan mendorong mahasiswa untuk melakukan observasi faktor-faktor penyebab erosi dan limpasan di lahan pertanian. Diharapkan dengan melihat langsung di lapangan mahasiswa terlatih cara berpikir dan menjadi pemicu motivasi belajar di kampus. Selain itu dengan memadukan antara kegiatan Orienteering dan praktikum, mahasiswa dituntut untuk dapat membaca peta, belajar kerjasama dalam tim, melatih fisik dan mengenali lingkungan sekitar.

pengisian Kartu Kontrol
      Asisten TPTA Nizar Ulfah dan Andy memberikan penjelasan cara pengisian Kartu Kontrol.

          Teknis pelaksanaan adalah dengan membagi mahasiswa menjadi kelompok kecil berjumlah 5-6 orang. Setiap tim  dibekali dengan peta, kartu kontrol dan titik tujuan (point). Mereka diharuskan untuk mencapai point, memberikan tanda pada kartu kontrol sesuai dengan lokasi titik tersebut dan menjawab pertanyaan. Mereka tidak dibekali dengan kompas, karena keterbatasan alat, akan tetapi dengan peserta yang relatif telah mengenal UNPAD Jatinangor dan Ciparanje hal tersebut bukan menjadi hambatan. Peta dan alat pun sederhana dengan peta skala 1:10.000 hasil survey dan digitasi penelitian dan bahan yang mudah didapat seperti kertas dan kartu domino yang dilubangi.

Peserta diberikan waktu untuk membaca point pada peta dan menentukan strategi lokasi rute yang akan diambil untuk menuju 5 point sebelum acara dimulai/start. Pada kegiatan kali ini pemilihan rute atau titik pertama yang harus diambil tidak ditentukan, setiap tim diperbolehkan untuk menentukan sendiri sesuai dengan perhitungan mereka.  Adapun pemberangkatan tim dilakukan dalam selang waktu lima menit. Setiap tim memiliki catatan waktu start masing-masing sebagai patokan awal perhitungan nilai untuk waktu yang ditempuh untuk menyelesaikan seluruh titik.

image004

Peserta membaca point pada peta dan menentukan strategi rute untuk mencapai point

          Setiap Point mewakili suatu lokasi yang berhubungan dengan mata kuliah TPTA dan memiliki nilai skor berdasarkan kesulitan jarak tempuh. Misalnya Point “stasiun klimatologi”, berjarak tidak jauh dari lokasi start memiliki nilai jauh lebih kecil dibandingkan Point “lahan kering” yang memiliki lokasi paling jauh. Sebagai tanda bahwa mereka telah mencapai point tersebut, kartu kontrol diberikan tanda sesuai tanda yang ada di point tersebut.

image006

Peserta memberi tanda pada kartu kontrol

         image008

Peserta membaca dan menjawab pertanyaan

          Pertanyaan yang diajukan masih dalam lingkup TPTA, walaupun mahasiswa belum mengikuti mata kuliah dengan diberikan pertanyaan akan mendorong mereka mengasah otak dan logika berpikir untuk menyelesaikan setiap pertanyaan. Misalnya ketika mengunjungi Point “plot erosi” dimana terdapat 5 plot erosi dengan berbagai pola tanam dan kemiringan, mereka diminta untuk membandingkan pengaruhnya terhadap erosi dan limpasan.

 

image010

Contoh Lembar pertanyaan dan marker penanda menggunakan kartu domino yang dilubangi

          Waktu yang dibutuhkan oleh peserta berkisar antara 2 hingga 3 jam untuk menempuh jalur kurang lebih 4,5 km . Kemampuan fisik dan strategi pemilihan rute melalui jalan setapak maupun jalan utama menjadi penentu dalam waktu yang dibutuhkan. Selain itu pengetahuan umum diasah dalam kegiatan ini.

Kegiatan ini disederhanakan dari segi peraturan maupun pelaksanaannya, mengingat persiapan yang cukup singkat dan peserta belum begitu mengenal olahraga ini.  Akan lebih baik apabila melakukan pelatihan Orienteering terlebih dahulu dengan mengundang pelatih Orienteering tingkat nasional dan juga menggunakan peta dan alat yang berstandar nasional.

Kegiatan Orienteering  ini dapat saja diadopsi untuk kegiatan lainnya, seperti outbound, Fun bike, kegiatan jalan santai atau bahkan pengenalan kampus / Ospek di sekolah-sekolah.

Penulis mengajak pada rekan dosen, para guru yang mulia dan teman-teman mahasiswa untuk lebih mengenal lingkungan sekitar. Banyak cara untuk belajar di luar ruangan, tidak hanya dengan Orienteering. Dengan mengenal lingkungannya diharapkan bahwa kita sebagai bangsa yang tinggal di jamrud khatulistiwa dapat mencintai dan selanjutnya merumuskan Identitas bangsa ini. Selain itu yang lebih penting tidak menderita akan bencana dari berkah yang melimpah.

 

Kharistya Amaru

Bidang Kajian Teknik Tanah dan Air

Teknik Pertanian

Fakultas Teknologi Industri Pertanian

Universitas Padjadjaran


10 Komentar

Latihan fisik dengan berlari

Sudah lama sekali saya ingin menulis masalah olahraga. Dulu pada saat penulisan karya ilmiah di GPA Perhimpunan Penjelajah dan Pecinta Alam SMAN 2 Bandung, saya menulis tentang latihan fisik untuk Usia latihan pada umuran anak2 sma, saya sudah lupa lagi judulnya apa, tapi kurang lebih seperti itu.

Program latihan ini penting untuk rekan-rekan baik yang tidak berkegiatan berat ataupun yang memiliki tujuan tertentu. Dalam persiapan naik gunung RInjani yang saya lakukan bulan Juni lalu, saya melakukan latihan dengan berlari. Latihan sendiri sebenarnya sudah dimulai dari januari, tetapi belum intensif, memasuki bulan april kegiatan latihan ditambah hingga dua kali seminggu, masing-masing latihan sekitar 30 menit. Tempat latihan berbeda-beda, kadang di sekitar rumah, kadang juga di Jatinangor kampus UNPAD, kebetulan sekali disini ada track lari yang lumayan lah masih kelihatan track tanah liatnya, walau sebagian besar telah tertutup rumput ( kapan ya lapangan UNPAD bisa terpelihara dengan baik, Pak Ganjar mohon perhatiannya, kami warga UNPAD akan senang sekali klo lapangan kita itu diperhatikan). Tetapi saya lebih suka untuk latihan berlari di tempat yang naik turun atau cross country, tidak monoton di track lari. Selain tidak bosan juga menambah beban latihan, karena dengan ada perbedaan tinggi maka akan menambah berat latihan. Pernah satu ketika, diajak untuk ikut jogging di sekitar situlembang oleh Pa Cece anggota GPA yang juga secara rutin latihan lari tiap pagi di lapangan gasibu. Jalur menempuh waktu sekitar 4 jam, jalurnya sendiri dari daerah Cijanggel tempat bangunan PDAM berdiri – Lawang Angin – sebelum tiba di situlembang ada pertigaan lurus dan kekanan (dari sini naek kekiri ) – punggungan sebelah barat Barak – puncak Leumeungan – Cicaruk – Barak Situ lembang.

Baca lebih lanjut