yume ga areba michi wa aru

sebesar apapun mimpimu pasti ada jalan keluarnya


2 Komentar

Global Warming, apaan Sih?

Tulisan ini diterbitkan di GPANEWS.

Pemanasan Global mungkin tema yang kalah popular dibanding dengan Indonesian Idol, AFI, ataupun infotainment yang isinya memuat berita-berita artis. Sejak saat ini Pemanasan global harus menjadi perhatian kita bersama karena lambat laun dan secara tidak langsung kita akan terkena dampaknya. Mulai dari hawa kota bandung yang kian tahun kian panas hingga maraknya kejadian DBD disekitar kita. Rekan-rekan mungkin belum / pernah merasakan kabut yang turun di sman 2 hingga hampir setiap murid sempat menahan diri untuk ke wc. Kalo pernah denger cerita SMA 2 bandung di tahun 96, pada tahun itu udara kota bandung dingin sekali, pada saat upacara penerimaan siswa baru, pohon karet kita tercinta yang sampe tertutup kabut. Bayangin aja kita harus menahan hawa dingin ketika itu. Tahun ini 10 tahun telah berlangsung rekan-rekan bisa cerita bagaimana keadaan di SMA kita tercinta ini.

Baca lebih lanjut

Iklan


Tinggalkan komentar

Kampung Cirawa : Nasibmu kini…

Kampung Cirawa terletak di Desa Cibeureum Kecamatan Kertasari Kab. Bandung, tempat ini merupakan kampung dimana saya melakukan penelitian erosi. berawal pada bulan november tahun 2006 ketika saya bersama Dr. Priana Sudjono selaku pembimbing tesis melakukan observasi mengenai lokasi penelitian. Lokasi secara garis besar akan mengambil lokasi di daerah Citarum atas mengingat daerah ini adalah hulu dimana terdapat sebagian besar lahan digunakan sebagai daerah pertanian, dan yang mengkhawatirkan penanaman sayuran dilakukan juga di daerah yang berlereng curam. . Hal ini tidak baik bagi konservasi tanah dan air karena dapat menyebabkan erosi, longsor dan air limpasan permukaan yang membawa sedimen dari lahan pertanian.

Sejak pertama melihat gunung dan perbukitan di daerah Kertasari dari kejauhan timbul rasa heran, ngeri dan sedih. Bagaimana tidak di bulan November tahun 2006, setelah melalui musim kemarau yang panjang, lahan – lahan pertanian yang sebelumnya disebut – sebut oleh pembimbing saya menghampar hijau, berubah menjadi seperti gurun-gurun di daerah timur tengah atau cerita-cerita indian di Wild West. Lahan – lahan pertanian tidak bisa dimanfaatkan karena tidak terdapat hujan ataupun air yang dapat mengairi. Memang lahan di daerah ini sebagian besar merupakan ladang lahan kering tanpa ada irigasi. Ketiadaan pohon pohon menambah kengerian bila terjadi hujan lebat, tanah yang terlihat seperti gurun ini seperti mudah sekali untuk ter erosi dan dapat menimbulkan akibat yang tidak baik di kemudian hari.

Akhirnya setelah melakukan observasi dengan melihat dari jalan ditentukan beberapa kandidat lokasi penelitian yang diperkirakan cocok digunakan sebagai penelitian erosi dengan kemiringan curam yang tentunya berada dilahan pertanian. Lokasi akhir yang ditentukan merupakan lahan pertanian dengan kemiringan yang curam sekitar 25 derajat, disatu titik bagian terlihat lahan yang mengalami pergerakan lahan.

Seperti biasa setelah berselang beberapa hari, mengurus perijinan ke kecamatan, desa dan RT dan RW. Dari beberapa perbincangan didapat beberapa informasi mengenai keadaan sebenarnya dari daerah ini, seperti konversi lahan dari hutan ke lahan pertanian yang dilakukan oleh masyarakat desa pada saat reformasi dan keadaan krisis tahun 98 lalu. Adapun pemerintah daerah tidak bisa berbuat banyak karena sebagian besar lahan merupakan hak milik perorangan. Sehingga terdapat sikap masyarakat yang disayangkan dan tidak bisa disalahkan karena pekerjaan yang ada di daerah ini yang dapat menghasilkan adalah pertanian.

Mengenai keadaan daerah menyinggung – nyinggung masalah erosi, pejabat desa Cibeureum pun sangat mendukung penelitian ini sehingga dapat disebarluaskan dan masyarakat luar dapat mengetahui keadaan daerah ini. Peristiwa erosi atau bahkan longsor merupakan hal yang biasa terjadi didaerah ini, bahkan tiap musim hujan pejabat Desa merangkap menjadi “kepala proyek” dan menyewa Beko (istilah yang biasa digunakan untuk Backhoe) untuk mengatasi longsor dan mengangkat tanah yang menutupi jalan jalan yang dapat mencapai tinggi satu meter di daerah Kertasari. Terdapat cerita yang mengenaskan, bahwa pernah kejadian di suatu tempat terjadi banjir yang menghanyutkan mobil hingga sekitar 500 meter, betapa dahsyatnya cerita ini seakan – akan beliau mewanti-wanti kami yang akan melakukan penelitian untuk berhati-hati.

Mengatasi permasalahan lahan yang dikonversi ke lahan pertanian ini agaknya sulit dilakukan walaupun sebenarnya bisa dilakukan seperti ide merubah menjadi perkebunan kopi, akan tetapi dibutuhkan modal yang tidak sedikit dan pendapatan tidak langsung didapat karena menunggu hingga tanaman berbuah. Merubah kembali menjadi hutan pun tidak semudah yang dibayangkan, bibit tanaman tidak mudah didapat, kalaupun ada tidak semua petani mau lahannya ditanami tanaman keras, mengingat tajuk tanaman dapat menutupi tanaman yang ada dibawahnya, atau bahkan kalau petani nakal bibit tanaman dijual lagi.

Setelah menunggu hingga berbulan-bulan akhirnya pada bulan april minggu kedua hujan di daerah ini mulai terjadi dengan intensitas yang normal. Sebelumnya memang jarang sekali terjadi hujan, entah sudah berapa kali bolak balik Bandung Cirawa demi mengejar kejadian hujan. Kejadian hujan yang sangat rendah ini juga sesuai dengan laporan meteorologi yang mengatakan bahwa bandung daerah selatan memiliki curah hujan yang dibawah normal untuk bulan januari hingga maret tahun 2007. Padahal kalau di Bandung kejadian hujan cukup sering terjadi, sedangkan pada saat dilokasi hujan tak kunjung juga datang.

Akhirnya tiba hari ini, pagi ini saya dikejutkan dengan berita dari harian Republika yang mengatakan terjadi banjir bandang di daerah kampung cirawa, apa yang ditakutkan datang. Untuk menguatkan apa yang diberitakan republika, saya coba beli harian pikiran rakyat, coba lihat di

Cermin Kerusakan Lingkungan
http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2007/112007/12/0204.htm

Pemkab Agar Tangani Lahan Kritis Akibat Banjir Lumpur di Kec. Kertasari
http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2007/112007/12/0201.htm

ternyata benar terjadi, lokasi yang disebutkan di harian PR pun sama. Dengan curah hujan yang tinggi seperti sekarang ini, hal tersebut adalah sangat mungkin terjadi, dan mungkin masyakat disana pun tidak akan kaget dengan apa yang terjadi karena memang sebelumnya pun telah terjadi, walaupun tingkat keparahannya saya belum tahu seperti apa. Lihat

Selasa, 04 Februari 2003
Bencana Alam di Kabupaten Bandung ”Saling Bersahutan”
http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/0203/04/0810.htm

Perubahan – perubahan fisik seperti penghutanan kembali agaknya tidak akan berjalan untuk tahun – tahun kedepan, erosi akan tetap terjadi karena untuk menciptakan daerah yang berhutan, diperlukan waktu minimal 15 tahun. Pendekatan sosial kepada masyarakat pun mutlak dilakukan, karena tanpa adanya campur tangan dari masyarakat mustahil perubahan akan dapat terjadi. Pemerintah harus pula berusaha memperbaiki lapangan pekerjaan di daerah ini sehingga kemungkinan perubahan mata pencaharian dari pertanian dapat merubah pemanfaatan lahan menjadi hutan kembali.

Mudah – mudahan ada perbaikan yang dapat merubah nasib daerah ini, kalau tidak masyarakat sendiri siapa lagi???


Tinggalkan komentar

CSR, Elemen Utama Tata Laksana Kemasyarakatan yang Baik

Republika, Minggu, 17 September 2006

Kesuksesan
korporat, tidak hanya ditentukan keberhasilan bisnisnya. Tetapi juga
kemampuannya menyukseskan program memberdayakan masyarakat dan
lingkungan sekitarnya.


Dalam lima tahun terakhir di Indonesia, kian banyak perusahaan melaksanakan corporate social responsibility (CSR) atau juga community development
(CD). Bahkan kini, semakin giat organisasi dan sektor swasta, serta
kantor pemerintahan yang memasukkan CSR dalam agenda prioritas
organisasi.

Tanggung
jawab korporat, telah menjadi isu penting. Tak saja dalam kegiatan
bisnis, tetapi juga dalam teori dan hukum, politik dan ekonomi.
Kesuksesan korporat, tidak saja ditentukan oleh keberhasilan bisnisnya.
Tetapi juga kemampuannya menyukseskan program memberdayakan masyarakat
dan lingkungan sekitarnya. Sayang, saat ini masih bayak program-program
CSR yang sifatnya ad hoc (sementara) saat terjadi bencana alam.
Padahal, tanggung jawab atau kepedulian korporat terhadap lingkungan
sekitarnya, terbukti akan menghasilkan kinerja bisnis yang baik.

Responsible business is good business.
Kesimpulan ini terangkum dalam Konferensi CSR yang diselenggarakan
Indonesia Business Links (IBL) pada Sabtu-Ahad (7-8/9) pekan lalu di
Jakarta.

Menteri
Koordinator (Menko) Perekonomian, Dr Boediono saat membuka konferensi
ini mengatakan, CSR merupakan elemen prinsip dalam tata laksana
kemasyarakatan yang baik. Bukan hanya bertujuan memberi nilai tambah
bagi para pemegang saham.

”Pada intinya, pelaku CSR sebaiknya tidak memisahkan aktifitas CSR dengan Good Corporate Governance. Karena keduanya merupakan satu continiuum (kesatuan), dan bukan merupakan penyatuan dari beberapa bagian yang terpisahkan,” ujar Boediono.

Menurutnya,
CSR tidak hanya mencakup apa yang seharusnya dilakukan, tapi juga
melihat apa yang sebaiknya dijalankan. Ini, kata Menko, seringkali
terlewat dan diremehkan. Seperti, mengeksploitasi birokrasi yang lemah
dan menjalankan praktek penyuapan untuk melaksanakan program CSR-nya.

Sementara itu, Duta Besar PBB untuk Millenium Development Goals
(MDGs) Asia Pasifik, Erna Witoelar mengatakan, kesadaran akan
pentingnya memasukkan kegiatan CSR sebagai salah satu aspek penting
dalam kegiatan bisnis, justru akan mampu meningkatkan kegiatan bisnis
secara bertanggung jawab.

”Kontribusi
korporat dalam pembangunan dan pengembangan Indonesia (khususnya),
tidak hanya ditentukan kegiatan bisnis, tetapi juga ditentukan seberapa
besar kontribusi terhadap lingkungan sekitar,” kata Erna yang
berbicara tentang Corporate Contributions to Development in Indonesia.

Karena
itu, Mantan Menteri Pemukiman dan Prasarana Wilayah (Menkimpraswil) di
Era Pemerintahan Gus Dur ini terus mendorong perusahaan-perusahaan di
Indonesia untuk menunjukkan kontribusinya terhadap negeri ini. Tak
hanya sebatas pada pembayaran pajak, tetapi juga kepeduliannya terhadap
lingkungan sekitar dalam pemberdayaan masyarakat. Erna Witoelar
berharap, perusahaan-perusahaan di Indonesia tidak hanya memikirkan
dirinya sendiri dan mengeruk keuntungan. Namun juga harus mampu
memberdayakan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitarnya yang
dianggap masih terbelakang. ”Banyak perusahaan yang hanya berupaya
memperkaya dirinya sendiri. Mereka membiarkan masyarakat sekitar hidup
dalam garis kemiskinan dan keterbelakangan.”

Sementara itu, GM External Affairs and Sustainable Development
PT Kaltim Prima Coal (PKC), Harry Miarsono mendukung
perusahaan-perusahaan untuk terus memberikan kontribusi terhadap
masyarakat disekitarnya. Ia mengatakan, dalam melaksanakan program CSR
dan Community Development, PT Kaltim Prima Coal (bergerak dalam
pengolahan batu bara) telah menetapkan kebijakan pembangunan yang
berkelanjutan. Berbagai program pengembangan masyarakat telah dirancang
dan dijalankan agar bisa mempercepat pertumbuhan ekonomi lokal dan
pembangunan wilayah. Program-program ini, lanjutnya, diharapkan bisa
menyiapkan masyarakat yang mandiri menuju pembangunan berkelanjutan.

Sementara itu, Deputy Corporate Communication
PT BMW Indonesia, Helena Abidin mengatakan, CSR bagi BMW Indonesa,
tidak hanya sekadar memberikan sumbangan atau bantuan kepada masyarakat
yang terkena bencana alam. ”CSR bagi kami justru akan memberikan nilai
tambah bagi perusahaan untuk semakin mendekatkan produk dan brand kami kepada masyarakat dan komunitasnya,” kata Helena kepada Republika.

Ia menambahkan, perusahaan mestinya tidak hanya mengejar business oriented
tetapi bisnis harus menjadi proses pembelajaran dan pemberdayaan
masyarakat. ”Sebagai perusahaan dari luar negeri, di Indonesia kami
justru bisa belajar budaya masyarakat setempat sebagai proses
transformasi budaya, teknologi dan sains,” ujar Helena.

Karena
itu, BMW Indonesia, kata Helena, sangat mendukung upaya-upaya
pemerintah untuk mendorong dan memberikan kontribusi bagi pembangunan.
”Banyak perusahaan yang sukses tidak hanya berorientasi pada bisnis,
tetapi juga karena kepedulian mereka terhadap lingkungan sekitar dengan
pemberdayaan masyarakatnya,” jelasnya.

Hal
yang sama juga diungkapkan PR Manager Riaupulp, Fakhrunnas Jabbar dan
Field Liaison Manager PT Newmont Pasific Nusantara, Katamsi Ginano.
Menurut Fakhrunnas, sukses perusahaan juga didukung oleh kepeduliannya
terhadap masyarakat dan lingkungan sekitarnya. Karena itu, Fakhrunnas
sangat mendukung dan mendorong tumbuhnya semangat ber-CSR di kalangan
perusahaan-perusahaan.

”Sukses CSR tidak hanya ditentukan oleh tripple bottom line, tetapi juga prinsip license to operate, business sustainable, pure philantropy dan cause-related marketing,” jelas Fakhrunnas. ”Good business
(bisnis yang baik –red) juga disebabkan karena mereka memberi nilai
dengan nilai. Bukan memberi nilai dengan materi,” tambah Katamsi.


(sya )

Blogged with Flock