yume ga areba michi wa aru

sebesar apapun mimpimu pasti ada jalan keluarnya

Pandangan muslim mengenai kejadian Paris France

Tinggalkan komentar

Bagaimana pandangan seorang muslim dalam menyikapi kejadian Paris perancis 8 januari 2015?

Abdur Rohman

Dalam menyikapi insiden pembunuhan di Paris ini kita sebaiknya bersabar menunggu hasil investigasi pihak berwenang hingga jelas siapa saja pelakunya dan atas motif apa melakukannya. Kalau memang sudah dapat dipastikan bahwa pelakunya mengaku muslim dan melakukannya atas motif membela Islam dengan perintah dari Al Qaeda atau ISIS, maka dalam pandangan saya, tindakannya itu SALAH BESAR. Minimal ada tiga sebab kenapa tindakannya salah besar:
1. Bertindak di luar wewenang.
2. Salah sasaran.
3. Menimbulkan keburukan yang lebih besar.
Pertama, soal wewenang. Islam memiliki peraturan yang sifatnya detil. Setiap keadaan ada hukumnya dan aturan pelaksanannya. Sangat berbahaya memahami hukum Islam secara sepotong-sepotong tanpa memahami aturan pelaksanannya secara detil. Di antara contohnya adalah hukuman yang sudah jelas bentuknya atas tindak kriminal, yang disebut hudud. Hudud misalnya hukuman bunuh bagi orang normal yang membunuh dengan sengaja tanpa alasan yang benar, hukuman cambuk atau rajam bagi yang berzina, dan potong tangan bagi yang mencuri. Untuk kasus-kasus ini ada aturan hukumnya, dan ada aturan pelaksanannya.

Contoh : dalam Al Quran disebutkan:

وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ فَاقْطَعُوا أَيْدِيَهُمَا جَزَاءً بِمَا كَسَبَا نَكَالًا مِنَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Al Maidah : 38)

Dalam ayat ini sangat jelas : Umat Islam diperintahkan untuk memotong tangan pencuri, laki-laki atau perempuan.

Lalu kalau si A mencuri jeruk si B, lalu si B mendatangi si A di rumahnya sambil bawa pisau lalu langsung memotong tangan si A dengan alasan menjalankan ayat ini, apakah tindakan si A itu benar? Sama sekali tidak.
Sebab, yang berwenang melaksanakan hukuman itu adalah pemerintah kaum muslimin.
Dalam hadits sahih riwayat Imam An Nasai disebutkan bahwa ketika ada maling yang mencuri baju Shafwan bin Umayyah ra lalu Shafwan berhasil menangkapnya, dia membawa pencuri itu kepada Rasulullah saw, lalu Rasulullah saw mengadilinya dan memutuskan hukum potong tangan.
Dalam hadits riwayat Al Bukhari dari Aisyah ra disebutkan bahwa seorang wanita Bani Makhzum mencuri, lalu orang-orang Quraisy berusaha meminta keringanan hukuman kepada Rasulullah saw lewat Usamah ra. Lalu Rasulullah saw marah, lalu mengucapkan pidato terkenal yang di antara isinya : “Andaikata Fatimah putri Muhammad mencuri, pasti aku potong tangannya.” Lalu beliau memerintahkan perempuan itu dipotong tangannya.

Dari dua contoh ini jelas, bahwa yang berwenang melaksanakan hukuman potong tangan bukan korban pencurian, juga bukan individu tertentu atas inisiatif sendiri, melainkan kepala pemerintahan Islam. Pada saat Rasulullah saw masih hidup, beliaulah yang berwenang sebagai kepala pemerintahan. Setelah beliau, para khalifah atau pemimpin negara Islamlah yang berwenang. Kalau potong tangan saja harus dilakukan dengan perintah kepala pemerintah, apalagi potong leher.

Sungguh Islam sangat menjunjung tinggi hak hidup seorang manusia. Membunuh satu jiwa tak berdosa itu seperti membunuh manusia seluruhnya. Meski demikian, Islam membolehkan membunuh individu dalam kondisi dan syarat tertentu, yang justru tujuannya adalah menjaga hidup masyarakat seluruhnya.

Karena itu, kita tidak perlu risau bahwa dalam Al Quran ada aturan perintah melaksanakan hukum qishash bagi pembunuh, sebab dalam hukum bunuh itu justru ada jaminan kehidupan dan keamanan bagi seluruh masyarakat, layaknya amputasi untuk mencegah tersebarnya penyakit mematikan ke seluruh tubuh.
Allah ta’ala berfirman :

وَلَكُمْ فِي الْقِصَاصِ حَيَاةٌ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Dan dalam qishaash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa. (Al Baqarah : 178)

Demikian juga kita tidak perlu dilematis mendapati dalam Al Quran perintah membunuh orang kafir dalam situasi jihad fi sabilillah, termasuk adanya perintah Rasulullah saw untuk membunuh Ka’ab bin Asyraf, tokoh Yahudi yang banyak mencaci beliau dan menjadi provokator orang Quraisy untuk memerangi umat Islam. Sebab, dalam ajaran-ajaran itu ada maslahat yang besar bagi kelangsungan hidup umat yang tanpa itu tidak tercapai. Contohnya, tidak mungkin sekarang ini kita bisa menikmati kebebasan hidup andaikata status kita masih terjajah. Dan, dulu para pahlawan kita baru berhasil meraih kemerdekaan itu setelah berjihad fi sabilillah dan membunuhi tentara para penjajah.

Dan perlu diingat, orang kafir itu diperangi bukan karena kufurnya atau syiriknya, melainkan karena tindakan kriminalnya berupa pemaksaan agama, pelanggaran janji, atau tindakan kriminal lainnya. Buktinya, Rasulullah saw membuat perjanjian damai dengan Yahudi di Madinah.
Jadi kita tidak perlu risau dengan ajaran qishash dan jihad dalam Islam. Yang perlu kita risaukan adalah soal detil aturan pelaksanannya dalam situasi umat sekarang ini. Misalnya : Apa syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk berlakunya hukuman itu sudah terpenuhi? Siapakah yang berwenang dan siapa yang tidak berwenang melaksanakannya? Dan lain-lain. Berdasarkan dalil-dalil yang ada, Ulama sepakat bahwa pelaksanaan hukum bunuh dalam bentuk apapun harus dilakukan dengan izin pemerintah Islam, tidak boleh dilakukan dengan inisiatif pribadi.

Sementara itu, Al Qaeda dan ISIS itu bukan pemerintahan Islam yang sah, biarpun mereka mengklaim itu. Para Ulama dunia termasuk mereka yang tergabung dalam Persatuan Ulama Muslimin Internasional yang dipimpin Dr Yusuf al Qaradhawi telah menolak keabsahan klaim ISIS sebagai negara Islam. Alasannya banyak, di antaranya karena berdirinya ISIS itu bukan berdasarkan musyawarah kaum Muslimin. Negara-negara yang berdasarkan syariat Islampun setahu saya tidak ada yang memerintahkan pembunuhan ini. Jadi, pembunuhan ini adalah tindakan kriminal dan tidak benar. Mengenai salah sasaran, ini terbukti dari terbunuhnya seorang Muslim dalam serangan itu. Tidak ada bukti atau pengadilan terbuka yang membuktikan bahwa saudara kita yang terbunuh itu turut membantu melecehkan Rasulullah saw. Tapi kenapa dibunuh juga. Padahal, dalam hadits riwayat Imam Muslim disebutkan, saat seorang wanita dari Ghamid mengaku berzina dan minta dihukum rajam sedangkan dia sedang hamil, Rasulullah saw memerintahkan untuk menunggu hingga bayinya lahir. Padahal, bayi itu hasil zina. Baru setelah bayi itu lahir, dan ada sahabat Nabi saw yang menjamin persusuannya, hukuman rajam dilaksanakan atas perintah Rasulullah saw. Bayi itu tidak ikut dirajam. Dia bersih dari noda dosa ayah ibunya. Inilah penghargaan Islam bagi jiwa manusia yang tidak berdosa, meski dia terlahir melalui perbuatan dosa. Mengenai alasan ketiga kenapa tindakan pembunuh di Paris itu salah adalah karena menimbulkan kemungkaran lebih besar.
Allah swt berfirman :

وَلَا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ ۗ كَذَٰلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ أُمَّةٍ عَمَلَهُمْ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّهِمْ مَرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan. (Al An’am :108)

Para ahli tafsir di antaranya Imam Al Qurthubi dan Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa di antara ajaran ayat ini adalah bahwa perbuatan yang benar sekalipun (contohnya memaki sesembahan selain Allah) harus dihindari andaikata bila dilakukan dapat menimbulkan keburukan yang lebih besar (contohnya munculnya caci maki terhadap Allah ta’ala).
Ini kaidah yang agung yang harus menjadi pertimbangan setiap orang dalam setiap tindakannya. Sebelum ini, yang mencaci maki Rasulullah saw dengan tameng kebebasan berekspresi relatif sedikit, termasuk Charlie.
Tapi setelah peristiwa ini, justru publik bereaksi membela kebebasan berekspresi ala Charlie, yang bermakna memperkuat golongan yang hendak mencaci maki Rasulullah saw.
Ini sedikitnya alasan-alasan kenapa pembunuhan ini salah besar. Mengenai pertanyaan Kang Dafi, saya berusaha mencari pendapat Ulama saat ini baik individu maupun lembaga fatwa yang secara khusus terkait situasi ini, tapi saya belum menemukan.
Tapi karena hal ini penting, saya coba sampaikan pandangan pribadi saya yang bukan ahli ilmu (sehingga bisa jadi tidak tepat dan bisa jadi tepat), yaitu bahwa sikap kita sebaiknya bersabar dan terus taat dalam koridor ajaran Islam, mengikuti ayat berikut :

۞ لَتُبْلَوُنَّ فِي أَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ وَلَتَسْمَعُنَّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَمِنَ الَّذِينَ أَشْرَكُوا أَذًى كَثِيرًا ۚ وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ ذَٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ

Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati.
Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan. (Ali Imran : 186)
Para mufassir mengatakan bahwa ayat ini mengajarkan bahwa pasti kita akan diuji dalam harta dan jiwa (misalnya musibah kehilangan harta atau kehilangan orang yang kita cintai).
Dan pasti kita akan mendengar sesuatu yang menyakitkan dari sikap dan ucapan orang-orang Yahudi, Nasrani, dan orang-orang Musyrik. Maka hal yang mesti kita lakukan adalah terus bersabar dan bertaqwa menghadapinya.
Imam Ibnul Jauzi menyatakan bahwa menurut mayoritas Ulama, ayat ini tetap berlaku meskipun sudah turun ayat-ayat yang mengizinkan berperang melawan orang-orang kafir yang memerangi umat Islam. Jadi proses beradu argumen dengan orang-orang kafir terus dilakukan Rasulullah saw meski perang pun beliau jalankan.
Makna lainnya menurut Imam Ibnu Katsir, adalah bahwa setiap orang yang menegakkan kebenaran, menjalankan amar ma’ruf nahi munkar pasti akan disakiti.
Maka tidak ada jalan lain selain bersabar, memohon pertolongan Allah, dan kembali kepada Allah.
Adapun sikap kepada saudara sesama muslim yang bereaksi kurang tepat, sebaiknya kita mengingatkannya dengan bijak dan berdiskusi dengannya dengan sebaik-baiknya, serta mendoakannya semoga Allah memberinya kesadaran dan membimbingnya menjadi baik. Tetapi kita perlu memperingatkan publik untuk tidak mengikuti mereka. Dan bila mereka berbuat anarkis, kita perlu mendukung pihak berwajib untuk turun tangan.
Allah ta’ala berfirman :

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (An Nahl :125)

Rasulullah saw bersabda :
Barangsiapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya. Kalau dia tidak sanggup, maka dengan lisannya. Kalau dia tidak sanggup, maka dengan hatinya, dan itu adalah iman yang paling lemah (riwayat Imam Muslim dari Abu Sa’id al Khudri ra).

Wallahu a’lam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s