yume ga areba michi wa aru

sebesar apapun mimpimu pasti ada jalan keluarnya

Pendakian Gunung Rinjani 3726 mdpl

7 Komentar

Perjalanan menuju Gunung Rinjani bukan perjalanan biasa tetapi telah diidam-idamkan sejak lama, pesona alam rinjani sudah terbayang-bayang sejak awal masuk GPA perhimpunan pecinta alam di SMA. Cerita mengenai danau segara anakan yang sangat besar, ikan-ikannya yang bisa dipancing dan vegetasi yang beragam selama perjalanan di jalur pendakian seakan membius dan meresap dalam hati sanubari. Bisa dibilang ini adalah salah satu mimpi yang jadi kenyataan di tahun 2008. Bagaimana tidak, kesempatan untuk ke lombok saja sulit, selain waktu, beberapa lembar kertas yang dikeluarkan Bank Indonesia merupakan faktor utama yang menjadi hambatan ke daerah ini.

Sebelumnya terbayang untuk menuju pulau yang bertetangga dengan pulau dewata ini membutuhkan waktu yang benar-benar lowong, mungkin 1 hingga dua minggu, karena perjalanan darat saja butuh waktu 4 hari pulang pergi, dan untuk menikmati pendakian ke Rinjani minimal 4 hari. Kenikmatan mendaki pun terbayang berkurang akibat perjalanan darat yang begitu panjang. Biaya yang dibutuhkan pun tidak sedikit, sejak dulu persoalan ini sepertinya klasik, ingin berangkat tapi belum pernah ada usaha untuk menabung. Tapi apabila ada kelebihan uang dan kesempatan waktu yang panjang pasti ingin berangkat. Selain itu sulitnya menyesuaikan waktu dengan teman-teman lain yang berminat ke sana, menjadikan perjalanan ini seperti tidak mungkin dilaksanakan.

Wisata yang dilakukan para dosen di lingkungan FTIP mungkin tidak begitu menarik minat bila saja tujuannya bukan pulau lombok. Sejak ditawarkan untuk ikut, saya selalu anggap bukan hal yang besar, biasa saja, ikut syukur tidak ikut juga tidak apa-apa. Apabila bisa ikut saya bisa menyempatkan waktu melakukan pendakian gunung rinjani, apabila tidak ikut ya mungkin bukan rejeki. Lagipula dua minggu terakhir walaupun telah ditawarkan ikut dan saya mau, ternyata saya belum masuk dalam list peserta yg ikut, karena tempat yang disediakan sudah habis. Mmmhhh…aneh, tetap saja saya berusaha menyiapkan perjalanan ke Gunung Rinjani.

Persiapan peralatan sudah barang tentu menjadi hal yang penting, sampai-sampai saya mengacu pada list barang pendidikan dasar GPA, takutnya ada barang-barang yang dibutuhkan tetapi tidak terbawa, akhirnya merepotkan dan tidak menikmati selama pendakian. Informasi mengenai rinjani pun menjadi prioritas, karena saya pergi seorang diri tentunya harus menyiapkan perjalanan sematang mungkin. Mulai dari informasi jalur yang akan dilewati, camp area dan mata air sepanjang jalur, jasa porter, perijinan masuk Gunung rinjani, tempat bermalam selama di lombok setelah berpisah dengan rombongan FTIP dan orang yang bisa dijadikan kontak di lombok.

Untuk menyiasati kemudahan selama proses pendakian, tentu saja semua barang disiapkan semua di bandung, sehingga bila sampai lombok tidak perlu lagi memikirkan mencari perlengkapan atau belanja bahan makanan. Alat-alat masak, makanan selama pendakian, perlengkapan tidur dan benda-benda kecil lain yang dibutuhkan selama perjalanan disiapkan. Terkecuali tenda dome yang memang tidak dibawa dari bandung, rencananya memang meminjam dari mapala atau sewa dari penyedia jasa peminjaman di desa terakhir pendakian.

Informasi mengenai contact person didapat dari Arie, senior di GPA via Milist. Mas Karman, yang merupakan teman dari Ari ternyata tidak berada di lombok. Beliau bekerja di pulau sebelahnya, Sumbawa dan kemungkinan tidak bisa menemani selama saya di lombok. Akhirnya diberikan kontak baru oleh Mas Karman, Mas Imam, yang juga ternyata masih teman dari senior di GPA. Kelak sampai saya pulang kembali ke bandung, saya belum sempat bertemu beliau. Beliau masih tinggal di lombok dan bersedia membantu kelancaran proses pendakian. Saya diarahkan untuk datang saja ke Sekretariat Mapala Fakultas Ekonomi Universitas Mataram, disana saya bisa bermalam dan mengurus persiapan pendakian.

Hari terakhir Tour Lombok FTIP, saya berpisah dengan rombongan ditempat kami makan siang. Kebetulan saja ada alumni teknotan yang bekerja di lombok Kang Doel ’95 yang merupakan kakak dari teman satu angkatan dan Kang Gun ’96, dan memang saya kenal dengan keduanya, jadi saya ikut beliau berdua untuk sementara. Setelah mengunjungi pabrik atau mungkin untuk saat ini masih gudang penyimpanan Garuda food dimana keduanya bekerja dan rumah kediaman Kang Doel, saya diantar hingga Fakultas Ekonomi Unram, oleh rekan dari Kang Gun, Daniel. Untuk ketiganya saya ucapkan terimakasih, maafkan bila selama di lombok saya merepotkan.

Sembalun – Desa yang berkabut

Sejak meninggalkan Aikmel, kota kecamatan di Lombok Timur pemandangan cukup menghibur selama perjalanan. Sembalun mulai terlihat di kejauhan ketika minibus mulai bergerak turun, dari atas kita bisa melihat barisan gunung-gunung dan dataran yang cukup luas. Keadaan udara berkabut saat turun menuju sembalun, terasa sekali hawa dingin yang masuk melalui jendela minibus yang terbuka.

Sembalun sendiri dikelilingi beberapa gunung yang menjulang tinggi, gunung – gunung yang mengitarinya sedikit berbeda dibanding di daerah jawa barat, disini curam dan tidak banyak pepohonan tumbuh, sepertinya bukan karena penebangan tapi memang vegetasinya seperti itu. Rumput – rumput terlihat tumbuh dengan subur, sering juga di pinggir jalan menuju Sembalun, terlihat tumbuhan Edelweis. Kemungkinan sekitar ketinggian sekitar 1500-2000 sebelum turun ke Sembalun (1150 mdpl). Keadaan rumah – rumah yang dikelilingi kebun dengan pagar dari tanaman dan ranting-ranting pohon, menjadikan pemandangan desa ini berbeda dengan desa-desa di daerah jawa yang biasa saya lihat. Memasuki Sembalun, hawa dingin dari kabut yang bertiup ringan masih terasa. Perumahan tampak terlihat padat, motor sekali-sekali saja terlihat. Walaupun demikian jalanan sudah termasuk hotmix, mulus seperti di kota. Di desa ini sepanjang yang saya tahu, terdapat toko kelontong, beberapa warung nasi, bahkan ada kerajinan tenun tradisional suku sasak.

Setelah sampai di Sembalun, saya dan Ali berhenti di depan Rinjani Information Center, tempat untuk mengurus administrasi berupa tiket masuk dan mengisi keterangan mengenai informasi diri. Kantor ini dibawah Departemen Kehutanan Dirjen Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam. Waktu menunjukkan sekitar pukul 3.00 sore, akan tetapi masih ada petugas yang melayani kami. Dan uniknya selain menulis informasi diri, karena semua sampah dan plastik diharapkan dibawa kembali, terdapat form isian mengenai makanan yang berbungkus. Sempat bingung juga, bolehlah kalo makanan kaleng bisa dihitung, tapi selain itu banyak makanan-makanan kecil yang semuanya menggunakan bungkus plastik. Ternyata itu hanya sekedarnya saja, tidak terlalu detil. Maka diisilah form tersebut dengan daftar yang teringat. Total biaya masuk rinjani untuk berdua, cukup murah hanya 20 ribu rupiah saja. Tiket masuk untuk satu orang hanya 2500 rupiah, ditambah retribusi pembangunan desa dan retribusi Rinjani trek (untuk kegiatan SAR, Kebersihan, program pengembangan masyarakat, training guide & porter, konservasi) hanya 7500 rupiah.

Setelah urusan administrasi beres, kami berdua mencari warung nasi yang ada. Sayangnya dua warung nasi tidak bisa memberikan pelayanan karena kehabisan nasi dan tutup, memang waktu sudah terlalu sore hampir pukul 3.30.

Tak jauh dari warung kami mampir terlebih dulu ke rumah kenalan Ali, disana dikenalkan dengan Guide Rinjani bapak Tuti dan Rapi. Tuti sendiri bukan perempuan, nama ini diambil dari nama anak sulungnya, kebiasaan orang Sasak bila telah mempunyai anak, maka dia akan dipanggil dengan nama anak sulungnya. Jadi teringat anekdot “ Ini Bapak Budi, ini Ibu Budi”, lalu siapa sebenarnya nama bapak dan ibu budi? Tidak ada yang mengetahuinya sampai sekarang…hehehe.

Dari keterangan Tuti, ternyata besok pagi terdapat dua rombongan yang naik melalui jalur yang sama, 30 orang anak dari Singapore dan 3 Germany. Mungkin kita akan bertemu di Plawangan / tepi kawah di jalur Sembalun-Puncak, tempat yang biasa digunakan untuk mendirikan tenda.

Setelah menghabiskan segelas teh manis, sebungkus oreo dan shalat jama takhir dan Qashar, perjalanan dilanjutkan dengan ojek motor menuju desa Bawa Nao. Pilihan ini diambil untuk menghemat waktu perjalanan menuju pos 2, mengingat waktu yang semakin sore (mungkin sekitar pkl 4 sore WITA).

Desa Bawa Nao – Pos 2 Tengengean (1,5 jam)

Ojek motor yang kami tumpangi berhenti didepan gang cukup untuk satu motor masuk, atau tepatnya jalan kecil diantara dua rumah yang menuju jalan setapak jalur pendakian. Disebelah jalan kecil ini terdapat warung kecil yang menjual makanan-makanan kecil. Saatnya berbelanja untuk terakhir kali, makanan kecil yang kira-kira bisa dibawa tanpa memberatkan, dua botol air kemasan 600 ml dan barang-barang kecil yang sangat dibutuhkan seperti korek dan baterei tidak lupa dibeli. Jalan kecil yang tadi disebut berupa jalan tanah yang mengeras, setelah beberapa rumah kami lewati kebun lahan kering dan sawah mendominasi selama awal perjalanan.

Saat ini puncak rinjani belum terlihat, hanya saja kaki pegunungan berupa padang rumput yang luas dan menguning dapat terlihat dengan jelas, sedangkan dibagian bawah padang rumput terdapat kumpulan pepohonan lebat. Terbayang jelas bila perjalanan dilakukan pada siang hari, setidaknya dibutuhkan energi yang lebih untuk melawan terik matahari dan keringat yang tidak sedikit untuk menapaki padang rumput tersebut. Bagaimana tidak, tidak banyak pohon yang bergerombol di kaki gunung. Sinar matahari tentunya akan langsung menyengat para pendaki tanpa ada peneduh di sisi sisi jalur pendakian.

Perjalanan agak sedikit berubah sebelum menjumpai sungai pertama, Sungai Kali Mati. Padang rumput dengan semak-semak yang tak terurus mulai dilewati. Pepohonan yang bergerombol yang dapat dikatakan hutan kecil dijumpai di sebelah kanan perjalanan. Sebelum sampai di kali mati dikejauhan sebelah kiri tampak, bangunan green house yang cukup banyak mungkin jumlahnya ratusan. Selain itu terdapat danau buatan cukup luas yang menjamin suplai air untuk tanaman mereka. Katanya di sini terdapat pertanian dengan komoditas yang cukup berkualitas, milik Group. Terkenang masa-masa PKL di Lembang bandung, kalau dibandingkan disini jumlah greenhouse yang di Lembang ga ada apa-apanya.

Tiba di Kali Mati, sesuai namanya tidak ada sedikitpun air yang mengalir. Mungkin ini memang khas sungai di daerah ini, sungai menjadi tempat pengaliran air pada saat musim penghujan saja, di musim kemarau tidak ada air yang mengalir. Sebagai gantinya pasir-pasir dan batu hitam keabuan, khas sungai yang terbentuk dari lava gunung berapi mengisi sungai ini. Bila di daerah jawa tentu daerah ini sudah menjadi daerah pertambangan tipe galian C, pasir dan batunya bagus untuk bahan bangunan dan beton. Tidak ada jembatan dan untuk saat seperti ini memang tidak butuh jembatan, saat kaki menjejakkan didasar sungai yang berpasir dan berbatu, terasa sekali perbedaannya dengan jalan setapak yang berupa tanah.

Setelah Kali mati, perjalanan sedikit menanjak menuju punggungan bukit, diatas punggungan dapat terlihat jelas atap bangunan greenhouse beserta danaunya yang sangat luas dengan latar belakang gunung X yang dijumpai pada saat di desa Sembalun. Tak jauh di sebelah kanan berupa hutan kecil menyatu dengan arah jalur perjalanan. Hutan pertama yang kami lewati. Di kejauhan terdengar suara-suara lenguhan dan kalung sapi yang mungkin digembalakan di balik hutan-hutan tersebut. Membawa suasana menjadi semakin penasaran ingin melihat batang hidung sapi-sapi tersebut.

Beberapa puluh langkah memasuki hutan kecil, suara bel kalung sapi yang terbuat dari kayu dan logam semakin kuat, perpaduan bahan pembuat kalung membuat irama menjadi unik, jarang-jarang ada orkestra musik di pendakian apalagi anggotanya hewan ternak. Benar saja sembilan ekor keluar dari hutan didampingi satu orang tua setengah baya dan dua anak remaja. Tampaknya dua remaja ini sedang menggembalakan dan bertemu orangtuanya yang baru pulang dari danau, terlihat dari beberapa ikan yang berukuran 3-4 kiloan di panggulannya. Beberapa masih segar dan lainnya telah diawetkan dengan cara diasap.

Memasuki hutan, suasana temaram hinggap di sekitar kita. Lantai hutan tidak terlalu padat ditumbuhi semak, daun-daunan kering tampak tidak terlalu tebal disini. Jalur didalam hutan yang dilalui pun tidak terlalu panjang. Di penghujung hutan, kami beristirahat sejenak untuk memulihkan tenaga dan mengganti keringat dengan meminum beberapa teguk air. Kebiasan saya untuk mengamati batang-batang pohon untuk mengamati tanaman epifit khususnya dari Family Orchidaceae (http://en.wikipedia.org/wiki/Orchidaceae) yang ikut hidup menumpang di sekitarnya. Anggrek pertama yang saya jumpai di pendakian ini, sekilas tampak dari bentuk batang dan bulb, dendrobium anosnum. Kebetulan tanaman ini saya koleksi dirumah, jadi mengetahui dengan jelas bentuknya. Hanya untuk memastikan lebih jauh tidak bisa dilakukan, karena tanaman ini belum berbunga. Memang sebenarnya bentuk batang dan bulb hanya mendukung saja untuk mengetahui dari Genus mana tanaman ini, tapi untuk spesiesnya bisa diketahui dengan pasti dari bentuk dan warna bunganya.

Pos 2 – Pos 3 “Pada balong”(41 menit) 8.30 -11.10

Pos 3 – Plawangan (11.10 – 13.15)

Plawangan

Plawangan terletak dipunggungan, tepatnya pinggiran kawah dari Gunung Rinjani. Sebelum mencapai camp area, kita berjalan di atas punggungan dengan jalan setapak yang berpasir. Keadaan terbuka dan matahari sedang terik-teriknya walaupun kabut masih ada tetapi panas matahari seperti sanggup menembus kabut dingin di sekitar Plawangan. Beberapa puncakan kecil ditumbuhi kumpulan pepohonan, hingga akhirnya tiba di camp area. Sekitar 500 meter sebelum mencapai Camp Area, terdapat percabangan kearah kanan bawah, jalan inilah yang kelak akan dilewati ketika menuju ke danau.

Tiba di Camp area pukul 13.15, tidak ada satupun pendaki yang ditemui. Terdengar suara ribut kera abu- abu ekor panjang di pepohonan, dan anjing liar tak bertuan yang mencari sisa-sisa pendaki sebelumnya. Camp area tidak seperti yang dibayangkan, “banyak pepohonan, rimbun dan terlindung ”. Keadaan Camp area terbuka, dengan tempat berpijak yang berupa pasir keras. Memang agak ke sebelah utara ada kumpulan pohon cemara, sayangnya letaknya di pinggiran punggungan, lahan miring dan tidak cocok untuk dijadikan tempat berkemah. Ali menentukan lokasi tenda, dimana tempat ini merupakan cerukan memanjang di sebelah barat punggungan dan terletak agak bawah dari punggungan utama sehingga tenda terhindar dari angin dingin yang bertiup keras dari bawah kawah maupun dari sisi timur. Pemandangan sekitar masih belum terlihat dengan jelas karena awan dan kabut masih cukup tebal.

Setelah istirahat sebentar, kami memasang tenda, memasukkan seluruh barang-barang kedalamnya untuk menghindarkan gangguan dari kera-kera jahil penghuni plawangan. Untuk yang satu ini, kita harus berhati-hati, “bahkan kera disini bisa buka restsleting tenda”, kata Ali. Setelah itu kami menuju mata air untuk mengambil air dan membersihkan badan. Seluruh tempat penampungan air dikeluarkan, jerigen 5 liter dan 5 botol 650ml dimasukkan kedalam daypack. Tidak lupa membawa gelas dan dua sachet minuman jeruk instan. Mata air terletak di sebelah timur, dibawah lembahan kedua dari camp area. Jalan masuk dari kumpulan pepohonan di sebelah utara, disini kita bisa lihat plang yang menunjukkan sumber air, belok kiri masuk ke jalan setapak.

Masuk ke lembahan sumber mata air, lagi-lagi berbeda dengan yang dibayangkan. Kejutan – kejutan aneh ini kelak akan banyak ditemui selama pendakian. Bagaimana tidak, lembahan ini sangat sempit sekitar 3 – 4 meter. Gemericik air terdengar sangat kuat akibat pantulan dari dinding-dinding lembah sehingga membawa hati ini entah kemana. Bila dilihat asal bunyi gemericik air ini, berasal dari tetesan-tetesan di tebing lembahan sebelah barat. Sungguh luar biasa, tebing yang memiliki panjang sekitar 5 meter ini menetaskan air dari bagian-ke bagian, seperti bertingkat-tingkat menghasilkan pemandangan seperti gerimis hujan. Setelah terkumpul dibawah menghasilkan aliran air kecil yang ditampung dan tidak jauh dari tebing dapat diambil dengan mengalirkannya menggunakan dedaunan yang ada sehingga menciptakan pancuran kecil. Air yang mengalir dingin sekali, seperti keluar dari kulkas keluaran terbaru, botol-botol yang diisi langsung berembun di bagian luarnya. Seketika rasa lelah dan peluh hilang. Sayang sekali alat dokumentasi ditinggal di tenda, sehingga luput untuk mengabadikannya.

Berikutnya:

Rombongan lain

Penantian clear sky n Sunset,
Bersambung..

7 gagasan untuk “Pendakian Gunung Rinjani 3726 mdpl

  1. waaaa … asyik banget, saya tunggu cerita selanjutnya.

  2. wuih tulisan yang menarik,,, jd kpengen ke Rinjani lagi deh kya waktu Tapak Rinjani III 1999. salam kangen deh dengan teman teman pendaki TR III..terutama anak Mapala FE Unram

  3. perijinan ke unung rinjani gimana yah?? trus bayarnya berapa per orang.. ?? pls bgt di jawab..

  4. TAPAK RINJANI 7 AKAN DI SELENGGARAKAN LAGI TAHUN INI TGL 9-16 SEPTEMBER 2012 DI HARAPKAN PARTISIPASINYA.

    TTD
    ANGGOTA MAPALA-FE UNRAM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.383 pengikut lainnya.