yume ga areba michi wa aru

sebesar apapun mimpimu pasti ada jalan keluarnya

Kampung Cirawa : Nasibmu kini…

Tinggalkan komentar

Kampung Cirawa terletak di Desa Cibeureum Kecamatan Kertasari Kab. Bandung, tempat ini merupakan kampung dimana saya melakukan penelitian erosi. berawal pada bulan november tahun 2006 ketika saya bersama Dr. Priana Sudjono selaku pembimbing tesis melakukan observasi mengenai lokasi penelitian. Lokasi secara garis besar akan mengambil lokasi di daerah Citarum atas mengingat daerah ini adalah hulu dimana terdapat sebagian besar lahan digunakan sebagai daerah pertanian, dan yang mengkhawatirkan penanaman sayuran dilakukan juga di daerah yang berlereng curam. . Hal ini tidak baik bagi konservasi tanah dan air karena dapat menyebabkan erosi, longsor dan air limpasan permukaan yang membawa sedimen dari lahan pertanian.

Sejak pertama melihat gunung dan perbukitan di daerah Kertasari dari kejauhan timbul rasa heran, ngeri dan sedih. Bagaimana tidak di bulan November tahun 2006, setelah melalui musim kemarau yang panjang, lahan – lahan pertanian yang sebelumnya disebut – sebut oleh pembimbing saya menghampar hijau, berubah menjadi seperti gurun-gurun di daerah timur tengah atau cerita-cerita indian di Wild West. Lahan – lahan pertanian tidak bisa dimanfaatkan karena tidak terdapat hujan ataupun air yang dapat mengairi. Memang lahan di daerah ini sebagian besar merupakan ladang lahan kering tanpa ada irigasi. Ketiadaan pohon pohon menambah kengerian bila terjadi hujan lebat, tanah yang terlihat seperti gurun ini seperti mudah sekali untuk ter erosi dan dapat menimbulkan akibat yang tidak baik di kemudian hari.

Akhirnya setelah melakukan observasi dengan melihat dari jalan ditentukan beberapa kandidat lokasi penelitian yang diperkirakan cocok digunakan sebagai penelitian erosi dengan kemiringan curam yang tentunya berada dilahan pertanian. Lokasi akhir yang ditentukan merupakan lahan pertanian dengan kemiringan yang curam sekitar 25 derajat, disatu titik bagian terlihat lahan yang mengalami pergerakan lahan.

Seperti biasa setelah berselang beberapa hari, mengurus perijinan ke kecamatan, desa dan RT dan RW. Dari beberapa perbincangan didapat beberapa informasi mengenai keadaan sebenarnya dari daerah ini, seperti konversi lahan dari hutan ke lahan pertanian yang dilakukan oleh masyarakat desa pada saat reformasi dan keadaan krisis tahun 98 lalu. Adapun pemerintah daerah tidak bisa berbuat banyak karena sebagian besar lahan merupakan hak milik perorangan. Sehingga terdapat sikap masyarakat yang disayangkan dan tidak bisa disalahkan karena pekerjaan yang ada di daerah ini yang dapat menghasilkan adalah pertanian.

Mengenai keadaan daerah menyinggung – nyinggung masalah erosi, pejabat desa Cibeureum pun sangat mendukung penelitian ini sehingga dapat disebarluaskan dan masyarakat luar dapat mengetahui keadaan daerah ini. Peristiwa erosi atau bahkan longsor merupakan hal yang biasa terjadi didaerah ini, bahkan tiap musim hujan pejabat Desa merangkap menjadi “kepala proyek” dan menyewa Beko (istilah yang biasa digunakan untuk Backhoe) untuk mengatasi longsor dan mengangkat tanah yang menutupi jalan jalan yang dapat mencapai tinggi satu meter di daerah Kertasari. Terdapat cerita yang mengenaskan, bahwa pernah kejadian di suatu tempat terjadi banjir yang menghanyutkan mobil hingga sekitar 500 meter, betapa dahsyatnya cerita ini seakan – akan beliau mewanti-wanti kami yang akan melakukan penelitian untuk berhati-hati.

Mengatasi permasalahan lahan yang dikonversi ke lahan pertanian ini agaknya sulit dilakukan walaupun sebenarnya bisa dilakukan seperti ide merubah menjadi perkebunan kopi, akan tetapi dibutuhkan modal yang tidak sedikit dan pendapatan tidak langsung didapat karena menunggu hingga tanaman berbuah. Merubah kembali menjadi hutan pun tidak semudah yang dibayangkan, bibit tanaman tidak mudah didapat, kalaupun ada tidak semua petani mau lahannya ditanami tanaman keras, mengingat tajuk tanaman dapat menutupi tanaman yang ada dibawahnya, atau bahkan kalau petani nakal bibit tanaman dijual lagi.

Setelah menunggu hingga berbulan-bulan akhirnya pada bulan april minggu kedua hujan di daerah ini mulai terjadi dengan intensitas yang normal. Sebelumnya memang jarang sekali terjadi hujan, entah sudah berapa kali bolak balik Bandung Cirawa demi mengejar kejadian hujan. Kejadian hujan yang sangat rendah ini juga sesuai dengan laporan meteorologi yang mengatakan bahwa bandung daerah selatan memiliki curah hujan yang dibawah normal untuk bulan januari hingga maret tahun 2007. Padahal kalau di Bandung kejadian hujan cukup sering terjadi, sedangkan pada saat dilokasi hujan tak kunjung juga datang.

Akhirnya tiba hari ini, pagi ini saya dikejutkan dengan berita dari harian Republika yang mengatakan terjadi banjir bandang di daerah kampung cirawa, apa yang ditakutkan datang. Untuk menguatkan apa yang diberitakan republika, saya coba beli harian pikiran rakyat, coba lihat di

Cermin Kerusakan Lingkungan
http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2007/112007/12/0204.htm

Pemkab Agar Tangani Lahan Kritis Akibat Banjir Lumpur di Kec. Kertasari
http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2007/112007/12/0201.htm

ternyata benar terjadi, lokasi yang disebutkan di harian PR pun sama. Dengan curah hujan yang tinggi seperti sekarang ini, hal tersebut adalah sangat mungkin terjadi, dan mungkin masyakat disana pun tidak akan kaget dengan apa yang terjadi karena memang sebelumnya pun telah terjadi, walaupun tingkat keparahannya saya belum tahu seperti apa. Lihat

Selasa, 04 Februari 2003
Bencana Alam di Kabupaten Bandung ”Saling Bersahutan”
http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/0203/04/0810.htm

Perubahan – perubahan fisik seperti penghutanan kembali agaknya tidak akan berjalan untuk tahun – tahun kedepan, erosi akan tetap terjadi karena untuk menciptakan daerah yang berhutan, diperlukan waktu minimal 15 tahun. Pendekatan sosial kepada masyarakat pun mutlak dilakukan, karena tanpa adanya campur tangan dari masyarakat mustahil perubahan akan dapat terjadi. Pemerintah harus pula berusaha memperbaiki lapangan pekerjaan di daerah ini sehingga kemungkinan perubahan mata pencaharian dari pertanian dapat merubah pemanfaatan lahan menjadi hutan kembali.

Mudah – mudahan ada perbaikan yang dapat merubah nasib daerah ini, kalau tidak masyarakat sendiri siapa lagi???

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s