yume ga areba michi wa aru

sebesar apapun mimpimu pasti ada jalan keluarnya

Menyiapkan perubahan sikap manusia terhadap Lingkungan.

3 Komentar

Perubahan yang dimaksud disinibukanlah transformasi yang diartikan sebagai perubahan seluruhnya (dari teknologi,sosial budaya dan ekonomi). Perubahan disini lebih kepada perubahan hidupberperilaku, kebiasaan dalam hidup yang menunjang pada higienis, perilaku hidupbersih. Masih banyak masyarakat kita yang memiliki kebiasaan (bukan budaya lho)yang tidak higienis, seperti makan tanpa mencuci tangan terlebih dahulu. Dikatakantidak higienis karena bisa saja ditangannya terdapat bibit penyakit atau,terselip dikuku hitamnya, telur-telur cacing hal ini dapat mengakibatkanseseorang menderita cacingan.

Begitujuga sikap manusia terhadap air. Walaupun agak jauh berhubungan; pernah denger tentang air yang di beri doa-doa ala dalai lama, dikatakan “kamu baik”, “kamujelek”, dihadapkan pada gambar lukisan pegunungan, didengarkan lagu lagu klasiksemacam Bethoven, mozart, suara tarian kecak dari bali, lagu rock. Perbedaanrespon air yang berasal dari berbagai kota besar dan dari pegunungan. Semuanya ditelitioleh seorang peneliti jepang “Masaru” ternyata air memberikan respon yangberbeda-beda. Apabila dikatakan baik, didengarkan doa-doa, lagu klasik maka airakan membentuk kristal-kristal yang bagus, bila dikatakan jelek, bodoh didengarkanlagu rock maka air akan membentuk kristal yang semrawut dan jelek bahkan tidakberbentuk. Inti sebenarnya yang dapat ditarik dari penelitian ini bukan hanyaterbatas pada air tapi pada seluruh ciptaan Nya. Betpa kita harus hati-hati /menghormatipada tanah, air, udara mahluk mahluk yang ada di dunia ini.

Khususnyapada lingkungan, manusia telah begitu banyak menimbulkan kerusakan pada bumiini. Limbah, kotoran, sampah dibuang begitu saja tanpa mengindahkan lingkungandan mahluk lain. Responnya dari lingkungan dapat kita lihat seperti menyebabkanpenyakit, sumber vektor bahkan menjadi bencana alam.

Kasus ang sedang merebak saat ini contohnya flu burung, orang yang terkena dampakpenyakit flu burung sebagai hasil dari penularan unggas ke manusia merupakansalah satu penampakan dari masalah. Masalah sebenarnya ada dibelakang kasus tersebut. Mengobati manusia yang terjangkit dan membunuh unggas-unggasmerupakan sebagian dari penyelesaian masalah. Bila dilihat latar belakanglingkungannya coba lihat dan amati apakah mereka dapat menjaga kebersihanlingkungan sekitar kandang? Cara yang paling efektif agaknya dengan mempelajaridaur hidup virus tersebut dan bagaimana unggas dapat terjangkit, sehingga dapatditemukan pemutus lingkaran setan kasus tersebut.

Ingat motto 3 M, menguras, menutup dan mengubur (emangnya orang, klo mati dikubur)dalam memberantas penyakit demam berdarah. Hal ini merupakan salah satu carauntuk memutuskan rantai dari daur hidup nyamuk Aedes Aegypti. Dengan mengobatimanusia yang terjangkit, hanya menyelesaikan satu masalah, tapi dengan 3M dapatmenyelesaikan masalah lebih besar.

Walaupundemikian terdapat beberapa indigenous power atau kearifan lokal yang dapat ditemui di masyarakat, hal ini patutditiru dan jangan sampai dalam melakukan perubahan malah menghilangkan kearifanyang sudah ada akan tetapi dapat digunakan untuk mendukung pelaksanaan program.Contohnya di Bali, nelayan disana sebelum melaut, melakukan sembahyang dulu,dengan tujuan untuk menghormati laut sebagai sumber penghidupannya. Bahkan sakinghormatnya pada laut hingga sampah yang kecilpun seperti puntung rokok engganmereka buang ke laut. Ketika habis merokok, mereka padamkan kemudian menyimpanpuntungnya untuk dibuang ditempat semestinya. Jangan contoh merokoknya tapicontohlah rasa penghormatannya pada laut dengan tidak membuang sampahsembarangan.

Seperti yang terlihat pada gambar1 dalam mempersiapkan perubahan sikap masyarakat terhadap lingkungan kita harusmemperhatikan hal diatas.

Penilaian peran serta diartikan sebagai penilaian akan kebiasaan dan budaya yang potensial untuk dikembangkan ataudiangkat sebagai pendukung program. Misalnya gotong royong yang terdapat dimasyarakat pedesaan dapat mendukung program yang akan dilaksanakan. Keberadaan Komando teritorial seperti babinsa dan koramil dapat membantu menyukseskan programpemerintah dalam artian yang baik. Peran serta mereka sangat penting mengingat mereka adalah pengayom masyarakat yang telah dapat berbaur lebih dulu dibanding kita.

Teknologi yang diterima diartikansebagai teknologi yang dapat diterima oleh masyarakat baik itu dalam segibiaya, teknis, penggunaan dan pemeliharaan. Para ahli yang tidak berpikirsistemik biasanya hanya mementingkan dari segi teknis tanpa memperhitungkan halyang lainnya, dan akhirnya teknologi tersebut rusak akibat salah penggunaan, tidakterpelihara atau bahkan enggan digunakan oleh masyarakat.

Contohnya dalam pengadaan wc umum, didaerah yang memiliki kebiasaan buang air besar dikebun (anggap saja disebut “Dolbon”) sistem pengolahan seperti apa yang dapat diterapkan, kita mungkin akan langsungmenentukan, digunakan sistem riol, pengolahan, air olahan yang jernih dibuangke sungai. Dari segi teknis mungkin sangat baik, tapi apa dapat diterima olehmasyarakat pengguna, belum tentu. Dalam kebiasaan Dolbon ini ternyata adaprinsip ; apa yang dibuang oleh manusia masih dapat bermanfaat, masyarakattidak terganggu oleh kebiasaan ini karena alam masih mampu mengatasinya, masihada mekanisme self purification olehalam.

Komunikasi dengan masyarakat jangan sampai terlewat. Apapun yang akan diterapkan sebaiknya dikomunikasikan,sehingga dapat diketahui apa keinginan mereka dan mereka dapat menerima apayang mereka inginkan. Adapun dalam penyampaian sesuaikan dengan kemampuanmereka menangkap pesan, tidak perlu seperti memberi kuliah kepada mahasiswaatau menggurui seperti pada anak sekolah, yang penting apa yang disampaikanoleh instruktur dan diutarakan oleh peserta dapat dimengerti oleh masing-masingbelah pihak.

Selanjutnya beralih ke strategi pelaksanaan. Dalam masyarakat kita harus mengetahui perbedaan struktur sosial ekonomi dan budayayang ada didalamnya. Pengambilan keputusandalam masyarakat ditentukan oleh siapa, apakah oleh konsensus atau oleh pemukaadat yang suaranya mewakili masyarakat. Jangan sampai kita terkecoh dengankomitmen diantara mereka, ternyata pengambil keputusan tidak mewakili seluruhmasyarakat hanya golongannya saja, hal ini akan menimbulkan konflik. Cara yangpraktis dalam mengetahui siapa pengambil keputusan sebenarnya adalah dengannarasumber yang dapat diajak bicara tentang masyarakat atau wilayah tersebutseperti : guru sd, pemuka agama, bidan yang kira-kira memiliki keinginan untukmaju tidak ABS (asal bapa senang).

Komposisi penduduk tentu sangat beragam mulai dari yang trampil, tidak terampil dan tertarik. Menarik bila kitamendapati masyarakat yang terampil dan dia tertarik untuk ikut program akantetapi akan menjadi kendala bila trampil dan tidak tertarik, biasanya akanmenjadi penghalang dalam kemajuan karena hanya mengkritik saja tanpa memberikasolusi. Orang yang terampil dapat digunakan untuk mendukung program, contohnya dalampengadaan air bersih, seperti tukang bangunan dan montir dapat menjadi perintisdan membangun program yang akan dikembangkan. Hal ini berhubungan dengan penggunaan peran serta yang telahdisebutkan diawal, yaitu melibatkan sesuai teknik khusus yang dimiliki.

Pendekatanke pada masyarakat dapat melalui pendekatan sosiologisterkait, seperti agama dan budaya. Studimasyarakat dapat dilakukan untuk mengetahui standar kesehatan masyarakat,tingkat kesadaran akan water bornedisease, pola kepemimpinan yang berdasar konsensus / pemuka, bahan bangunan,tenaga yang tersedia, kemampuan membayar.

Contohlah pengadaan fasilitas MCK di pedesaanAsmat. Perlu digambarkan bahwa mereka buang air tidak di lingkungan rumahnyatetapi di perjalanan antara rumah ke tempat pengambilan sagu. Dan ada isu yangcukup penting bahwa buangannya itu tidak boleh tercium karena dapat menyebabkanpeperangan. Selain itu pengadaan bahan bangunan sulit dilakukan, batu pun dapatmenjadi maskawin karena sangat jarang sekali ada batu disana. Disinilah tantangannyabagaimana memindahkan MCK ke lingkungan rumahnya tanpa menimbulkan bau, bahanapa yang digunakan untuk mengganti bahan bangunan seperti pvc, lem, semen, batudan pasir. Mereka menggantinya dengan bahan-bahan lokal seperti kayu, getah,pasak. Adapun untuk rancangan WC harus disesuaikan dengan kondisi merekamengingat isu yang sangat sensitif.

Blogged with Flock

3 thoughts on “Menyiapkan perubahan sikap manusia terhadap Lingkungan.

  1. Ping-balik: Saling Ketergantungan antara Manusia dan Lingkungan « Iki BloG

  2. Your writing technique is underived, I like it.

  3. Ping-balik: Sukosrianggono's Blog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s