yume ga areba michi wa aru

sebesar apapun mimpimu pasti ada jalan keluarnya

Archive for the ‘Plesir’ Category

Gladian Panji Geografi ditutup SBY

without comments

Dalam rangka peringatan sumpah pemuda ke 80 tahun, Wanadri bersama Kopassus, Masyarakat Geografi Indonesia, Bakosurtanal, Mitigasi Bencana ITB, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi yang didukung oleh Menegpora dan Menkokesra mengadakan Gladian Panji Geografi. Yaitu suatu volunteer camp atau pelatihan mengenai tanggap darurat bencana alam. Peserta berasal dari seluruh wilayah Republik Indonesia terdiri dari 687 peserta, terdiri dari 600 pemuda dan 87 pemudi yang mewakili 26 provinsi dari Sumatera sampai dengan Papua, sebagian besar berasal dari perhimpunan pencinta alam, adapun Menwa dan LSM pun tak ketinggalan mengikuti acara ini.

SBY berfoto bersama perwakilan propinsi

Baca entri selengkapnya »

Jalur Talun Papandayan BUngbulang GnJampang

with one comment

Kemarin Sabtu dan minggu 4-5 oktober 08 bersama Anggota GPA angkatan hiji dan beberapa Alumni SMAN 2 punya kesempatan untuk momotoran offroad, jalurnya sih rencananya hari pertama menuju kawah papandayan melalui Pangalengan-desa Cibatarua – Kawah. kemudian menginap di dekat warung deket pondok saladah. Tapi apa daya, karena rombongan yang terdiri dari 12 motor (ditambah satu lagi Pa abdul angk 1 menyusul dan tiba pukul 8 malam), rombongan terpisah di desa cibatarua. Akhirnya Aru yang di belakang lewat jalur Cileuleuy menuju kawah Papandayan. Jalur perjalanan dari pangalengan hingga perkebunan teh Sedep masih berupa aspal, sesudah Perkebunan teh Sedep jalan merupakan jalan perkebunan yang terdiri dari batuan pecah dan tanah. Begitu juga dengan jalur dari cileuleuy hingga warung di Tepian Kawah papandayan, jalan berupa batuan dan tanah hanya saja keadaannya lebih rusak dibandingkan jalur sebelumnya.

Ketika tiba di tempat, ternyata pa Uceng telah tiba dan sama seperti Aru dan Gatut berpisah dengan rombongan besar, rombongna yang lain ternyata masih dibelakang, sepertinya agak tersesat mengingat jalur yang akan dicoba masih belum dikenal anggota rombongan.Rombongan menginap sekitar 200 meter sebelah barat warung (jarang-jarang buka), dengan tenda dome, fly sheet dan tenda segitiga rombongan. Sayangnya hawa dingin ditambah dengan rintik-rintik air dari kabut, semakin pagi rintik-rintik semakin besar dan menjadi hujan. sekitar pukul 7 rombongan sudah bergegas untuk melanjutkan perjalanan, walaupun hujan turun tetap harus berangkat, apabila terlalu siang akan mengurangi jatah waktu di perjalanan.

Hari kedua rencana perjalanan adalah kawah papandayan, parkiran cisurupan, bungbulang, rancabuaya, pangalengan. Kawah papandayan dengan sedikit insiden terjatuh pada saat naik dari menyebrangi sungai dengan mudah dan penuh canda dilalui. Tiba di parkiran cisurupan sekitar pukul 9.30, rombongan makan pagi dengan telur dadar, ayam suir dan sambel kecap, tidak lupa krupuk dan bala-bala. Setelah mengisi bensin di depan Pom bensin Cikajang (ngantri nya panjang jadi rombongan beli di eceran bensin murni dan 2tak) rombongan menuju bungbulang. Makan siang di warung desa bungbulang kecamatan bungbulang sekitar pukul 12.30. Jalur perjalanan ternyata dirubah, dari bungbulang ternyata ada jalur menuju perkebunan teh arjuna melalui desa Gunung Jampang, dan keadaan jalur terdiri dari batuan pecah, tanah dan naik turun punggungan. Di perjalanan melewati beberapa kampung, sawah-sawah, jembatan yang dibawahnya mengalir air yang jernih hutan heterogen, dan tak terhitung berapa punggungan turunan dan tanjakan yang dilalui.Beberapa kejadian seperti biasa terjadi mulai dari jatuh, motor yang harus bantu ditarik biar bisa naik tanjakan, jembatan bambu yang bergeser ketika dilewati, ganti busi, habis bensin hingga ganti stang karatan karena stang sebelumnya patah setelah jatuh akibat dari posisi motor yang labil.

Sekitar pukul 5.30 rombongan kembali bergabung setelah terpisah menjadi dua di desa perkebunan teh Citamiang, hari sudah senja dan kabut mulai turun.Sebagian sudah khawatir akan terlalu malam dan ingin segera kembali kecikajang garut, ternyata bila mengambil arah ke arjuna dan pulang melewati garut akan panjang sekali perjalanan dibandingkan bila mengambil jalur menuju pangalengan.Bensin yang menipis dan tubuh yang lelah memaksa untuk mencari tempat untuk mengisi bensin dan istirahat. Menurut keterangan penduduk di Stamplat ada penjual bensin, tapi ternyata persediaan kedua penjual habis. Akhirnya di Cileuleuy masih ada penjual yang memiliki persediaan bensin.
Insiden yang tak disangka kembali muncul, ketika gatut mengantarkan bensin untuk pa cece dengan menggunakan motor paman Quwu. Stang motor patah dan terpaksa diangkut mobil bak terbuka dan rencananya akan diangkut hingga pangalengan untuk mencari stang bekas. Adzan isya menyambut saya dan reiki ketika tiba di Cileuleuy untuk mengisi bensin, setelah itu ngobrol2 sebentar dengan penjual bensin. Masih diberi kemudahan, ternyata penjual bensin yang ternyata pemilik bengkel memiliki setang bekas (jadi2an).Sambil menunggu ganti stang, anggota rombongan makan mie rebus di warung. Sekitar 10.30 rombongan tiba di banjaran, depan jalan masuk menuju Gn Puntang, setelah sebagian rombongan makan nasi goreng. Rombongan kembali ke bandung menuju rumah masing2.

Buat rekan2 yang mo sekedar lihat2 atau mengunduhnya, silakan bisa lihat di.

http://picasaweb.google.co.id/turatea/TalunPapandayanBUngbulangGnJampang451008

Written by kharistya

Oktober 6, 2008 at 10:01 am

Ditulis dalam Plesir

Ditandai dengan , , , ,

Pendakian Gunung Rinjani 3726 mdpl

with 3 comments

Perjalanan menuju Gunung Rinjani bukan perjalanan biasa tetapi telah diidam-idamkan sejak lama, pesona alam rinjani sudah terbayang-bayang sejak awal masuk GPA perhimpunan pecinta alam di SMA. Cerita mengenai danau segara anakan yang sangat besar, ikan-ikannya yang bisa dipancing dan vegetasi yang beragam selama perjalanan di jalur pendakian seakan membius dan meresap dalam hati sanubari. Bisa dibilang ini adalah salah satu mimpi yang jadi kenyataan di tahun 2008. Bagaimana tidak, kesempatan untuk ke lombok saja sulit, selain waktu, beberapa lembar kertas yang dikeluarkan Bank Indonesia merupakan faktor utama yang menjadi hambatan ke daerah ini.

Sebelumnya terbayang untuk menuju pulau yang bertetangga dengan pulau dewata ini membutuhkan waktu yang benar-benar lowong, mungkin 1 hingga dua minggu, karena perjalanan darat saja butuh waktu 4 hari pulang pergi, dan untuk menikmati pendakian ke Rinjani minimal 4 hari. Kenikmatan mendaki pun terbayang berkurang akibat perjalanan darat yang begitu panjang. Biaya yang dibutuhkan pun tidak sedikit, sejak dulu persoalan ini sepertinya klasik, ingin berangkat tapi belum pernah ada usaha untuk menabung. Tapi apabila ada kelebihan uang dan kesempatan waktu yang panjang pasti ingin berangkat. Selain itu sulitnya menyesuaikan waktu dengan teman-teman lain yang berminat ke sana, menjadikan perjalanan ini seperti tidak mungkin dilaksanakan.

Wisata yang dilakukan para dosen di lingkungan FTIP mungkin tidak begitu menarik minat bila saja tujuannya bukan pulau lombok. Sejak ditawarkan untuk ikut, saya selalu anggap bukan hal yang besar, biasa saja, ikut syukur tidak ikut juga tidak apa-apa. Apabila bisa ikut saya bisa menyempatkan waktu melakukan pendakian gunung rinjani, apabila tidak ikut ya mungkin bukan rejeki. Lagipula dua minggu terakhir walaupun telah ditawarkan ikut dan saya mau, ternyata saya belum masuk dalam list peserta yg ikut, karena tempat yang disediakan sudah habis. Mmmhhh…aneh, tetap saja saya berusaha menyiapkan perjalanan ke Gunung Rinjani.

Persiapan peralatan sudah barang tentu menjadi hal yang penting, sampai-sampai saya mengacu pada list barang pendidikan dasar GPA, takutnya ada barang-barang yang dibutuhkan tetapi tidak terbawa, akhirnya merepotkan dan tidak menikmati selama pendakian. Informasi mengenai rinjani pun menjadi prioritas, karena saya pergi seorang diri tentunya harus menyiapkan perjalanan sematang mungkin. Mulai dari informasi jalur yang akan dilewati, camp area dan mata air sepanjang jalur, jasa porter, perijinan masuk Gunung rinjani, tempat bermalam selama di lombok setelah berpisah dengan rombongan FTIP dan orang yang bisa dijadikan kontak di lombok.

Untuk menyiasati kemudahan selama proses pendakian, tentu saja semua barang disiapkan semua di bandung, sehingga bila sampai lombok tidak perlu lagi memikirkan mencari perlengkapan atau belanja bahan makanan. Alat-alat masak, makanan selama pendakian, perlengkapan tidur dan benda-benda kecil lain yang dibutuhkan selama perjalanan disiapkan. Terkecuali tenda dome yang memang tidak dibawa dari bandung, rencananya memang meminjam dari mapala atau sewa dari penyedia jasa peminjaman di desa terakhir pendakian.

Informasi mengenai contact person didapat dari Arie, senior di GPA via Milist. Mas Karman, yang merupakan teman dari Ari ternyata tidak berada di lombok. Beliau bekerja di pulau sebelahnya, Sumbawa dan kemungkinan tidak bisa menemani selama saya di lombok. Akhirnya diberikan kontak baru oleh Mas Karman, Mas Imam, yang juga ternyata masih teman dari senior di GPA. Kelak sampai saya pulang kembali ke bandung, saya belum sempat bertemu beliau. Beliau masih tinggal di lombok dan bersedia membantu kelancaran proses pendakian. Saya diarahkan untuk datang saja ke Sekretariat Mapala Fakultas Ekonomi Universitas Mataram, disana saya bisa bermalam dan mengurus persiapan pendakian.

Hari terakhir Tour Lombok FTIP, saya berpisah dengan rombongan ditempat kami makan siang. Kebetulan saja ada alumni teknotan yang bekerja di lombok Kang Doel ’95 yang merupakan kakak dari teman satu angkatan dan Kang Gun ’96, dan memang saya kenal dengan keduanya, jadi saya ikut beliau berdua untuk sementara. Setelah mengunjungi pabrik atau mungkin untuk saat ini masih gudang penyimpanan Garuda food dimana keduanya bekerja dan rumah kediaman Kang Doel, saya diantar hingga Fakultas Ekonomi Unram, oleh rekan dari Kang Gun, Daniel. Untuk ketiganya saya ucapkan terimakasih, maafkan bila selama di lombok saya merepotkan.
Baca entri selengkapnya »

Written by kharistya

Juni 24, 2008 at 10:37 pm

Ditulis dalam Plesir

Air terjun atau curug Citambur

with 8 comments

Curug (basa sunda) atau dalam bahasa Indonesia disebut air terjun ini, terletak di desa Karang Jaya kecamatan Pagelaran kabupaten Cianjur. Apabila anda berangkat dari bandung, ambil arah ke selatan bandung tepatnya jalan menuju kecamatan Ciwidey kabupaten Bandung, setelah Perkebunan Teh Rancabali terdapat pertigaan jalan, ke arah kiri menunjukkan arah ke tempat wisata Situ / danau Patengan, sedangkan ke arah kanan menuju perkebunan teh Sinumbra

Ambillah jalan yang menuju ke perkebunan Sinumbra, perjalanan dari perkebunan Sinumbra – melalui desa Cipelah kecamatan Rancabali hingga desa Karang Jaya membutuhkan waktu sekitar satu setengah jam saja. Dengan keadaan jalan yang cukup baik hingga desa Cipelah, selanjutnya jalan masih baik walau berbatu – batu dan terkadang berlubang.

Baca entri selengkapnya »

Written by kharistya

Mei 2, 2008 at 4:41 pm

Ditulis dalam Plesir

Ditandai dengan , ,

DIRT BIKE Ciweh – Sukawana Go DIRTY Bro

without comments

Jumat, 01 04 2005, 15.19

Gugum: “ Get ready to go…!! Ciweh, Situ Lembang – Sukawana.isuk kumpul di imah urg jam 09.00. mau bergabung ? don’t miss it.., kabari yg lain… :’( “

Itulah pesan singkat yg aru terima dari Gugum salah satu partner di GPA n salah seorang yg ngaracunan urg momotoran – mmhhh dengan sekejap terbayang Dirt Biker…hehehe (bahasa naon deui yeuh) sekumpulan pemuda dengan motor trail, sepatu, celana n baju belepotan tanah n lumpur – GULAdik nu pasti mah, yup Adventure BO!!.

Ketika terima sms tersebut aru lagi di kost-an Andra, maklum Pengacara – pengangguran banyak acara, dah bosen diem terus dirumah, sekali kali duonk ngerepotin temen, yg pasti sihh nanya2 tentang sekolah di jerman, abis kemaren malem Frau Sabine membuatku ngiler pengen ke Jerman seeh. Lumayan ngobrol ama Andra sedikit terbuka ttg Kuliah di jerman. Persyaratannya lumayan berat, puasa 40 hari 40 malem, ayam item 1 ekor, telor putih 1 butir, kembang 7 rupa (lho kok ginian ??? hehehhee) ga denk becanda, persyaratan yg diucapkan tadi mungkin masih mending dibandingkan dengan apa yg diutarakan andra, mmhh emang sih harus bertahap n aru telat pengennya.

Bayangin aja klo mo kuliah disana tuh minimal punya sertifikat ZD, telah melalui pengajaran bhs jerman selama 400 jam di institusi yg diakui (Goethe contohnya), tabungan 65 juta yg udah diendapkan selama 6 bulan di Kedutaan Jerman untuk syarat dapet Visa, nah ini dia sulitnya disini. Sekarang berhitung, klo ngumpulin dari duit makan dengan puasa 40 hari 40 malem, paling hanya dapet 600 rebuan, klo uang makan kita 5rebu, kaliin aja 40 hari, 3 kali makan/hari, masih jauh duonks. Kuliah di jerman emang ga usah iuran SPP, kecuali yg kelas international yg bahasa pengantarnya sebagian bhs inggris, yg ini mah harus bayar tapi ga semahal klo kuliah di negara negara Anglo Saxon, Inggris – Australia – US. Ohhh iya selain dapet info aru juga sempet nonton film ttg kekejaman nazi dulu “The Pianist”, Wie schon einmal Klavier spielen ??? jadi sedikit2 belajar bhs jerman deh. Andra juga ngasih CD Deutsch Lessen ampe 4 CD, danke! Herr Andra, sampe ketemu dehhhh di Gottingen, doain aja.

Balik lagi ke sms yg tadi, jadi setelah aru lepas dari kungkungan skripsi dan bebas dari institusi yg namanya unpad, dimulailah petualangan dirt bike, sebelumnya baru 3 kali aru pergi ke Sukawana, tuk menjajal track – track trail yang ada dan berulangkali juga jatuh dari motor, baju kotor kecipratan ama lumpur n motor rusak (inget kepala ass perseneling yg kaya kaki bayi). Sebagai pemula memang harus merasakan jatuh dulu untuk memperoleh skill yg memadai untuk track yg advance, emang Sukawana memiliki banyak track dengan karakteristik yg variatif – berbukit, jalan setapak, berlumpur dan jalan berbatu, aru rasa cukup untuk tempat berlatih bagi pemula.

Sukawana sendiri adalah daerah hutan di sebelah selatan lereng Gn. Tangkuban Perahu, biasanya kita naik dari Parongpong (pabrik teh) atau dari Lembang Asri. Setelah melalui Sukawana biasanya kita langsung menuju track2 trail yang POOLLL, sesekali klo lewat jalur yg sulit motor ngadat karena ban spin n minta didorong atau diangkat, klo dah gini temen2 terpaksa bahu membahu saling bergantian mengangkat motor temen2nya. Setelah melalui hutan pinus Sukawana, kita melewati jalan aspal yang bisa dibilang sudah hilang aspalnya, jalan ini merupakan jalan dimulai dari Sukawana juga (pabrik teh) menuju Tower – menara komunikasi yang ada di puncak Tangkuban perahu. Selain itu melalui jalan ini kita dapat menuju Kawah Tangkuban Perahu disebelah utara tempat parkir objek wisata Kawah TP, tempat ini merupakan tempat yg asyik buat makan siang dan beristirahat.

Kali ini yang dimaksud Gugum adalah jalur Sukawana – Ciweh dengan arah perjalanan dibalik, ketertarikan pada Jalur ini karena lumayan panjang jalur yg berkelak – kelok dengan suasana yg Hutan banget dan melalui beberapa sungai (sekitar 4 sungai), selain itu walaupun jalan tanah, mayoritas masih bagus hanya di beberapa kelokan dan tanjakan jalur ini sudah rusak. Jalur ini pada jaman belanda merupakan jalan perkebunan, tetapi karena pemanfaatan udah ga ada, maka jalan ini ga terurus. Jalur ini bukan merupakan hal yg baru, sudah beberapa kali Pendidikan Dasar GPA, jalur ini dipake untuk jalur Longmarch, dan Ciweh sendiri merupakan basecamp pertama untuk menuju tempat pendidikan sebenarnya, dinamakan demikian sesuai dengan nama sungai yg mengalir membelah daerah tersebut (sungai – Ciweh, Ci = di daerah priangan menandakan nama sungai, seperti Way = di Lampung, Jene = di Sulawesi Selatan).

Sabtu, 02 04 2005

Pukul 10.30 dah ngumpul semua di bengkelnya si Wawan, deket rumah Gugum. Satu motor Honda CB 125 yg dimodif jadi Trial, 5 Suzuki TS 125 dengan modifikasi yg berbeda beda dan 6 pemuda ( Gugum, Teguh, GustaV, Wawan, Ogun (bener teu?) n sang bogalakon tentunya) siap menempuh petualang yang bener – bener ga terkira. Beberapa tas kecil dibawa yg berisi perbekalan untuk mengisi perut, memuaskan tenggorokan dan mengusir dahaga, snack2, waffer, roti, roko kretek filter (campuran tembakau asli dan cengkeh yg membedakannya dengan roko putih) dan air minum, selain itu toolkit dan raincoat ga lupa dibawa.

Sebelum berangkat aru sempet ngisi olie samping n ngeCek setelan karburator, abis klo gas diFull ngebrebet – mungkin campuran bensin dan udaranya ga pas. Baru kepikir klo perjalanan ini merupakan perjalanan pertama setelah sproket depan dan belakang diganti ( 13 – 54 sebelumnya kan 14 – 45 ) jadi ini merupakan uji coba pertama di lapangan apa performance motor nanti bagus atau tidak di jalur sulit yg menanjak, yang pasti klo di jalan datar aspal kecepatan maks berkurang menjadi hanya 80 – 90 km/jam sebelumnya 100 km/jam pun tembus, langkah jadi pendek dan bawaannya jadi pelan melulu, gimana lagi ngaGerung wae sih.

Perjalanan menuju Ciweh tidak ada halangan yang berarti, setelah masuk plang KOMANDO, Cihideung – jalanan mulai rusak, jalan berbatu mendominasi selama perjalanan menuju BandreX. Di depan pintu masuk yang disekitarnya pohon2 pinus ada sedikit perubahan, beberapa tahun yang lalu hanya ada satu warung/ bisa disebut saung yg sebenernya jarang ditempati, sekarang nampaknya sudah berpenghuni dan bangunannya pun bertambah walaupun tidak permanen. Abis jalan aspal setelah pintu masuk, untuk menghindari jalan yang berlumpur, kami memasuki hutan pinus sebelah kanan yg masih muda, berumur sekitar 6-7 tahunan (tahun 98 baru ditanami). Lantai hutan yg tertutup daun2 jarum pinus (disebut daun ga pantes, tapi ngarti meureun) dan tanah yg sedikit basah membuat ban_ban double coin sedikit spin tetapi tidak menjadi penghalang yg berarti. Keluar dari hutan pinus hingga Ciweh, jalanan kembali berubah menjadi jalan berbatu dan kubangan2 lumpur.

Pukul 11.30, Sebelum sampai tempat istirahat, kita melewati jembatan kayu di atas Ciweh , jembatan ini terlihat sudah rapuh dan berumur. Ciweh yang Desember 2004 kemaren dijadikan camp hari pertama Pendidikan Dasar tidak banyak berubah, hanya saja rumput – rumput hijau masih terlihat segar, tampaknya sangat jarang orang yang melewati daerah ini. Di tempat yg sedikit terbuka ini kami beristirahat sejenak sebelum menghadapi medan yang sulit dan membelah sungai di depan, mmmh nampaknya akan menjadi perjalanan yg cukup panjang hari ini.

Perjalanan segera dilanjutkan, beberapa puluh meter setelah Camp Ciweh kami berhadapan dengan sungai lagi, kali ini cukup lebar tetapi ketinggian air hanya beberapa puluh centimeter (sekitar 20 – 30 cm), tidak ada jembatan yg dapat menyebrangkan motor, satu – satunya jalan dengan turun ke sungai. Sungai bukan menjadi halangan, motor – motor dapat dgn mudah melintasinya, akan tetapi yang menjadi halangan adalah keluar dari sungainya, untuk kembali ke jalur harus naik sekitar 5 m, keadaan jalur sudah rusak membentuk cerukan, habis akibat ban-ban pacul yang memaksa naik. Dimulai dari Gugum dengan motor CB-nya, seperti yg sudah diperkirakan motor ga lebih dari 4 m dari sungai sudah ngadat. Jalan keluarnya dengan menarik motor dengan webing sembari memutar gas sekuat2nya. Cukup lama juga kami berkutat di hambatan pertama ini, sekitar 30 menit mungkin ada untuk menarik dan mendorong 5 motor yang tidak berdaya.

Motor yg dikendarai Teguhlah satu – satunya motor yg bisa naik tanpa bantuan yg berarti. Spesifikasi motor tidak jauh berbeda denga Motor TS yg lain, hanya saja pengaruh banlah mungkin menjadi penyebabnya. Rata – rata motor yg lain menggunakan ban dgn merek “Double Coin” n pasti tidak berdaya menghadapi medan ini. Dengan Ban “Kenda” yg membungkus ban – ban motor Teguh, nampaknya cukup memuaskan dlm mengatasi hambatan ini. Memang dari segi fisik “Kenda” lebih “gondrong”, kokoh dan karet nya pun tidak lunak tetapi sedikit lebih keras dibanding dengan “DC”, harga memang menjadi jawaban, klo mo tau harganya saja lebih dari dua kali lipatnya “DC”.

Bersambung ahhh panjang teuing caritana pokona mah pasti moal2 deui jalur Ciweh Cape….

Written by kharistya

April 5, 2005 at 9:58 am

Ditulis dalam Plesir

Ditandai dengan