Archive for the ‘Environmental’ Category
Global Warming, apaan Sih?
Tulisan ini diterbitkan di GPANEWS.
Pemanasan Global mungkin tema yang kalah popular dibanding dengan Indonesian Idol, AFI, ataupun infotainment yang isinya memuat berita-berita artis. Sejak saat ini Pemanasan global harus menjadi perhatian kita bersama karena lambat laun dan secara tidak langsung kita akan terkena dampaknya. Mulai dari hawa kota bandung yang kian tahun kian panas hingga maraknya kejadian DBD disekitar kita. Rekan-rekan mungkin belum / pernah merasakan kabut yang turun di sman 2 hingga hampir setiap murid sempat menahan diri untuk ke wc. Kalo pernah denger cerita SMA 2 bandung di tahun 96, pada tahun itu udara kota bandung dingin sekali, pada saat upacara penerimaan siswa baru, pohon karet kita tercinta yang sampe tertutup kabut. Bayangin aja kita harus menahan hawa dingin ketika itu. Tahun ini 10 tahun telah berlangsung rekan-rekan bisa cerita bagaimana keadaan di SMA kita tercinta ini.
Kampung Cirawa : Nasibmu kini…
Kampung Cirawa terletak di Desa Cibeureum Kecamatan Kertasari Kab. Bandung, tempat ini merupakan kampung dimana saya melakukan penelitian erosi. berawal pada bulan november tahun 2006 ketika saya bersama Dr. Priana Sudjono selaku pembimbing tesis melakukan observasi mengenai lokasi penelitian. Lokasi secara garis besar akan mengambil lokasi di daerah Citarum atas mengingat daerah ini adalah hulu dimana terdapat sebagian besar lahan digunakan sebagai daerah pertanian, dan yang mengkhawatirkan penanaman sayuran dilakukan juga di daerah yang berlereng curam. . Hal ini tidak baik bagi konservasi tanah dan air karena dapat menyebabkan erosi, longsor dan air limpasan permukaan yang membawa sedimen dari lahan pertanian.
Sejak pertama melihat gunung dan perbukitan di daerah Kertasari dari kejauhan timbul rasa heran, ngeri dan sedih. Bagaimana tidak di bulan November tahun 2006, setelah melalui musim kemarau yang panjang, lahan – lahan pertanian yang sebelumnya disebut – sebut oleh pembimbing saya menghampar hijau, berubah menjadi seperti gurun-gurun di daerah timur tengah atau cerita-cerita indian di Wild West. Lahan – lahan pertanian tidak bisa dimanfaatkan karena tidak terdapat hujan ataupun air yang dapat mengairi. Memang lahan di daerah ini sebagian besar merupakan ladang lahan kering tanpa ada irigasi. Ketiadaan pohon pohon menambah kengerian bila terjadi hujan lebat, tanah yang terlihat seperti gurun ini seperti mudah sekali untuk ter erosi dan dapat menimbulkan akibat yang tidak baik di kemudian hari.
Akhirnya setelah melakukan observasi dengan melihat dari jalan ditentukan beberapa kandidat lokasi penelitian yang diperkirakan cocok digunakan sebagai penelitian erosi dengan kemiringan curam yang tentunya berada dilahan pertanian. Lokasi akhir yang ditentukan merupakan lahan pertanian dengan kemiringan yang curam sekitar 25 derajat, disatu titik bagian terlihat lahan yang mengalami pergerakan lahan.
Seperti biasa setelah berselang beberapa hari, mengurus perijinan ke kecamatan, desa dan RT dan RW. Dari beberapa perbincangan didapat beberapa informasi mengenai keadaan sebenarnya dari daerah ini, seperti konversi lahan dari hutan ke lahan pertanian yang dilakukan oleh masyarakat desa pada saat reformasi dan keadaan krisis tahun 98 lalu. Adapun pemerintah daerah tidak bisa berbuat banyak karena sebagian besar lahan merupakan hak milik perorangan. Sehingga terdapat sikap masyarakat yang disayangkan dan tidak bisa disalahkan karena pekerjaan yang ada di daerah ini yang dapat menghasilkan adalah pertanian.
Mengenai keadaan daerah menyinggung – nyinggung masalah erosi, pejabat desa Cibeureum pun sangat mendukung penelitian ini sehingga dapat disebarluaskan dan masyarakat luar dapat mengetahui keadaan daerah ini. Peristiwa erosi atau bahkan longsor merupakan hal yang biasa terjadi didaerah ini, bahkan tiap musim hujan pejabat Desa merangkap menjadi “kepala proyek” dan menyewa Beko (istilah yang biasa digunakan untuk Backhoe) untuk mengatasi longsor dan mengangkat tanah yang menutupi jalan jalan yang dapat mencapai tinggi satu meter di daerah Kertasari. Terdapat cerita yang mengenaskan, bahwa pernah kejadian di suatu tempat terjadi banjir yang menghanyutkan mobil hingga sekitar 500 meter, betapa dahsyatnya cerita ini seakan – akan beliau mewanti-wanti kami yang akan melakukan penelitian untuk berhati-hati.
Mengatasi permasalahan lahan yang dikonversi ke lahan pertanian ini agaknya sulit dilakukan walaupun sebenarnya bisa dilakukan seperti ide merubah menjadi perkebunan kopi, akan tetapi dibutuhkan modal yang tidak sedikit dan pendapatan tidak langsung didapat karena menunggu hingga tanaman berbuah. Merubah kembali menjadi hutan pun tidak semudah yang dibayangkan, bibit tanaman tidak mudah didapat, kalaupun ada tidak semua petani mau lahannya ditanami tanaman keras, mengingat tajuk tanaman dapat menutupi tanaman yang ada dibawahnya, atau bahkan kalau petani nakal bibit tanaman dijual lagi.
Setelah menunggu hingga berbulan-bulan akhirnya pada bulan april minggu kedua hujan di daerah ini mulai terjadi dengan intensitas yang normal. Sebelumnya memang jarang sekali terjadi hujan, entah sudah berapa kali bolak balik Bandung Cirawa demi mengejar kejadian hujan. Kejadian hujan yang sangat rendah ini juga sesuai dengan laporan meteorologi yang mengatakan bahwa bandung daerah selatan memiliki curah hujan yang dibawah normal untuk bulan januari hingga maret tahun 2007. Padahal kalau di Bandung kejadian hujan cukup sering terjadi, sedangkan pada saat dilokasi hujan tak kunjung juga datang.
Akhirnya tiba hari ini, pagi ini saya dikejutkan dengan berita dari harian Republika yang mengatakan terjadi banjir bandang di daerah kampung cirawa, apa yang ditakutkan datang. Untuk menguatkan apa yang diberitakan republika, saya coba beli harian pikiran rakyat, coba lihat di
Cermin Kerusakan Lingkungan
http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2007/112007/12/0204.htm
Pemkab Agar Tangani Lahan Kritis Akibat Banjir Lumpur di Kec. Kertasari
http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2007/112007/12/0201.htm
ternyata benar terjadi, lokasi yang disebutkan di harian PR pun sama. Dengan curah hujan yang tinggi seperti sekarang ini, hal tersebut adalah sangat mungkin terjadi, dan mungkin masyakat disana pun tidak akan kaget dengan apa yang terjadi karena memang sebelumnya pun telah terjadi, walaupun tingkat keparahannya saya belum tahu seperti apa. Lihat
Selasa, 04 Februari 2003
Bencana Alam di Kabupaten Bandung ”Saling Bersahutan”
http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/0203/04/0810.htm
Perubahan – perubahan fisik seperti penghutanan kembali agaknya tidak akan berjalan untuk tahun – tahun kedepan, erosi akan tetap terjadi karena untuk menciptakan daerah yang berhutan, diperlukan waktu minimal 15 tahun. Pendekatan sosial kepada masyarakat pun mutlak dilakukan, karena tanpa adanya campur tangan dari masyarakat mustahil perubahan akan dapat terjadi. Pemerintah harus pula berusaha memperbaiki lapangan pekerjaan di daerah ini sehingga kemungkinan perubahan mata pencaharian dari pertanian dapat merubah pemanfaatan lahan menjadi hutan kembali.
Mudah – mudahan ada perbaikan yang dapat merubah nasib daerah ini, kalau tidak masyarakat sendiri siapa lagi???
CSR, Elemen Utama Tata Laksana Kemasyarakatan yang Baik
Republika, Minggu, 17 September 2006
Kesuksesan
korporat, tidak hanya ditentukan keberhasilan bisnisnya. Tetapi juga
kemampuannya menyukseskan program memberdayakan masyarakat dan
lingkungan sekitarnya.
Dalam lima tahun terakhir di Indonesia, kian banyak perusahaan melaksanakan corporate social responsibility (CSR) atau juga community development
(CD). Bahkan kini, semakin giat organisasi dan sektor swasta, serta
kantor pemerintahan yang memasukkan CSR dalam agenda prioritas
organisasi.
Tanggung
jawab korporat, telah menjadi isu penting. Tak saja dalam kegiatan
bisnis, tetapi juga dalam teori dan hukum, politik dan ekonomi.
Kesuksesan korporat, tidak saja ditentukan oleh keberhasilan bisnisnya.
Tetapi juga kemampuannya menyukseskan program memberdayakan masyarakat
dan lingkungan sekitarnya. Sayang, saat ini masih bayak program-program
CSR yang sifatnya ad hoc (sementara) saat terjadi bencana alam.
Padahal, tanggung jawab atau kepedulian korporat terhadap lingkungan
sekitarnya, terbukti akan menghasilkan kinerja bisnis yang baik.
Responsible business is good business.
Kesimpulan ini terangkum dalam Konferensi CSR yang diselenggarakan
Indonesia Business Links (IBL) pada Sabtu-Ahad (7-8/9) pekan lalu di
Jakarta.
Menteri
Koordinator (Menko) Perekonomian, Dr Boediono saat membuka konferensi
ini mengatakan, CSR merupakan elemen prinsip dalam tata laksana
kemasyarakatan yang baik. Bukan hanya bertujuan memberi nilai tambah
bagi para pemegang saham.
”Pada intinya, pelaku CSR sebaiknya tidak memisahkan aktifitas CSR dengan Good Corporate Governance. Karena keduanya merupakan satu continiuum (kesatuan), dan bukan merupakan penyatuan dari beberapa bagian yang terpisahkan,” ujar Boediono.
Menurutnya,
CSR tidak hanya mencakup apa yang seharusnya dilakukan, tapi juga
melihat apa yang sebaiknya dijalankan. Ini, kata Menko, seringkali
terlewat dan diremehkan. Seperti, mengeksploitasi birokrasi yang lemah
dan menjalankan praktek penyuapan untuk melaksanakan program CSR-nya.
Sementara itu, Duta Besar PBB untuk Millenium Development Goals
(MDGs) Asia Pasifik, Erna Witoelar mengatakan, kesadaran akan
pentingnya memasukkan kegiatan CSR sebagai salah satu aspek penting
dalam kegiatan bisnis, justru akan mampu meningkatkan kegiatan bisnis
secara bertanggung jawab.
”Kontribusi
korporat dalam pembangunan dan pengembangan Indonesia (khususnya),
tidak hanya ditentukan kegiatan bisnis, tetapi juga ditentukan seberapa
besar kontribusi terhadap lingkungan sekitar,” kata Erna yang
berbicara tentang Corporate Contributions to Development in Indonesia.
Karena
itu, Mantan Menteri Pemukiman dan Prasarana Wilayah (Menkimpraswil) di
Era Pemerintahan Gus Dur ini terus mendorong perusahaan-perusahaan di
Indonesia untuk menunjukkan kontribusinya terhadap negeri ini. Tak
hanya sebatas pada pembayaran pajak, tetapi juga kepeduliannya terhadap
lingkungan sekitar dalam pemberdayaan masyarakat. Erna Witoelar
berharap, perusahaan-perusahaan di Indonesia tidak hanya memikirkan
dirinya sendiri dan mengeruk keuntungan. Namun juga harus mampu
memberdayakan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitarnya yang
dianggap masih terbelakang. ”Banyak perusahaan yang hanya berupaya
memperkaya dirinya sendiri. Mereka membiarkan masyarakat sekitar hidup
dalam garis kemiskinan dan keterbelakangan.”
Sementara itu, GM External Affairs and Sustainable Development
PT Kaltim Prima Coal (PKC), Harry Miarsono mendukung
perusahaan-perusahaan untuk terus memberikan kontribusi terhadap
masyarakat disekitarnya. Ia mengatakan, dalam melaksanakan program CSR
dan Community Development, PT Kaltim Prima Coal (bergerak dalam
pengolahan batu bara) telah menetapkan kebijakan pembangunan yang
berkelanjutan. Berbagai program pengembangan masyarakat telah dirancang
dan dijalankan agar bisa mempercepat pertumbuhan ekonomi lokal dan
pembangunan wilayah. Program-program ini, lanjutnya, diharapkan bisa
menyiapkan masyarakat yang mandiri menuju pembangunan berkelanjutan.
Sementara itu, Deputy Corporate Communication
PT BMW Indonesia, Helena Abidin mengatakan, CSR bagi BMW Indonesa,
tidak hanya sekadar memberikan sumbangan atau bantuan kepada masyarakat
yang terkena bencana alam. ”CSR bagi kami justru akan memberikan nilai
tambah bagi perusahaan untuk semakin mendekatkan produk dan brand kami kepada masyarakat dan komunitasnya,” kata Helena kepada Republika.
Ia menambahkan, perusahaan mestinya tidak hanya mengejar business oriented
tetapi bisnis harus menjadi proses pembelajaran dan pemberdayaan
masyarakat. ”Sebagai perusahaan dari luar negeri, di Indonesia kami
justru bisa belajar budaya masyarakat setempat sebagai proses
transformasi budaya, teknologi dan sains,” ujar Helena.
Karena
itu, BMW Indonesia, kata Helena, sangat mendukung upaya-upaya
pemerintah untuk mendorong dan memberikan kontribusi bagi pembangunan.
”Banyak perusahaan yang sukses tidak hanya berorientasi pada bisnis,
tetapi juga karena kepedulian mereka terhadap lingkungan sekitar dengan
pemberdayaan masyarakatnya,” jelasnya.
Hal
yang sama juga diungkapkan PR Manager Riaupulp, Fakhrunnas Jabbar dan
Field Liaison Manager PT Newmont Pasific Nusantara, Katamsi Ginano.
Menurut Fakhrunnas, sukses perusahaan juga didukung oleh kepeduliannya
terhadap masyarakat dan lingkungan sekitarnya. Karena itu, Fakhrunnas
sangat mendukung dan mendorong tumbuhnya semangat ber-CSR di kalangan
perusahaan-perusahaan.
”Sukses CSR tidak hanya ditentukan oleh tripple bottom line, tetapi juga prinsip license to operate, business sustainable, pure philantropy dan cause-related marketing,” jelas Fakhrunnas. ”Good business
(bisnis yang baik –red) juga disebabkan karena mereka memberi nilai
dengan nilai. Bukan memberi nilai dengan materi,” tambah Katamsi.
(sya )
Blogged with Flock
Opini: Aspek Sosiologis Relokasi Penduduk
Republika, Sabtu, 07 Oktober 2006
Adi Himawan
Peneliti di Laboratorium of Urban Crisis and Community Development, Jurusan Sosiologi FISIP UNS
Akhir-akhir
ini bergulir cukup hangat perbincangan di tengah-tengah masyarakat
tentang rencana relokasi penduduk korban lumpur panas di Sidoarjo.
Masyarakat umum mencoba untuk menerka inikah akhir dari episode
penanganan semburan lumpur panas yang terjadi sejak akhir bulan Maret
lalu. Bergulirnya rencana relokasi penduduk ini telah membuka wacana
baru upaya mengatasi masalah sosial terkait kebutuhan papan bagi
masyarakat korban lumpur panas.
Wacana
ini makin berkembang setelah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
menetapkan daerah yang tergenang lumpur PT Lapindo di Porong, Sidoarjo
seluas 400 hektare sebagai kawasan rawan bencana (Republika, 28
September 2006). Jika demikian, dapat dikatakan rencana relokasi ini
tinggal menunggu waktu pelaksaanannya saja. Menurut rencana sedikitnya
2.900 kepala keluarga akan dipindahkan dari tempat tinggalnya menuju
tempat tinggal baru secara permanen.
Wacana yang terus bergulir ini memang tak luput dari kontroversi. Paling tidak ada tiga pendapat yang mengemuka. Pertama
mendukung relokasi bedol desa, artinya penduduk yang menjadi korban
lumpur panas secara keseluruhan dipindahkan ketempat yang baru dan
tetap menjadi satu kelompok masyarakat seperti halnya sebelumnya. Kedua,
pemindahan yang sifatnya individual, artinya penduduk bebas memilih
lokasi mana yang diinginkan. Konsekuensinya penduduk mendapat ganti
rugi tanah dan bangunan dari PT Lapindo. Ketiga, menolak dengan tegas rencana relokasi ini.
Aspek sosial
Lepas dari perbedaan pendapat ini, ada hal yang sebetulnya juga penting
diperhatikan, yakni aspek sosiologis dari relokasi atau perpindahan
penduduk. Kita menyadari bersama bahwa perpindahan penduduk dalam
pengertian individual maupun kolektif bukanlah gejala sosial yang
sederhana namun juga menyangkut perubahan sosial sistem sosial
masyarakat yang kompleks. Perubahan sosial akan dihadapi oleh
masyarakat yang terkena rencana relokasi maupun daerah yang menjadi
tujuan relokasi.
Paul
E Zopf, mengatakan bahwa perpindahan penduduk mempunyai pengaruh yang
kuat pada proses dan struktur masyarakat. Termasuk di dalamnya,
kepribadian-kepribadian migran, ketika mereka harus menyesuaikan
lingkungan baru yang secara total atau sebagian asing. Perpindahan
penduduk memotong ikatan-ikatan sosial yang signifikan dan dapat
menyebabkan ketidakteraturan pola-pola sosial di mana migran berasal.
Demikian
juga, migrasi seringkali memperkenalkan kelompok budaya dan etnik yang
berbeda dalam wilayah yang berbeda, sehingga tidak jarang memunculkan
konflik. Karena itu migrasi mensyaratkan penyesuaian ekonomi dan sosial
dalam komunitas-komunitas baik yang ditinggalkan atau dimasuki dan
kemampuan individu untuk menaggapi bahasa baru, kebudayaan dan
keseluruhan cara hidup (Rahmad, 2006).
Meninggalkan
tanah kelahiran dan keluar dari komunitas yang akrab bukanlah hal yang
ringan. Beragam persoalan ekonomis dan kultural, tak jarang dialami
sebelum masa ketentraman didapatkan. Di antaranya pertama masalah kelanjutan dalam menghadapi berbagai tantangan serta mendapatkan kesempatan di daerah tujuan. Kedua, corak dan proses penyesuaian diri dalam lingkungan sosial yang serba baru.
Perpindahan
dapat berarti meninggalkan komunitas yang relatif homogen dan
lingkungan sosial yang akrab serta masuk ke dalam suasana yang relatif
asing/majemuk. Terlebih jika perpindahan itu terjadi dari daerah yang
didiami etnis tertentu ke suatu daerah yang telah dihuni etnis yang
lain. Ketiga, kemungkinan kelanjutan atau keputusan hubungan
sosio-kultural dan ekonomis dengan tanah kelahiran dan kemungkinan
bertahan atau terleburnya identitas kultural lama ke dalam ikatan baru
(Rahmad, 2006). Kemudian langkah apa yang mungkin dilaksanakan untuk
mengeliminasi berbagai gejolak sosial yang timbul?
Identitas dan kontrol
Dalam kerangka demikian proses adaptasi sosial menjadi kunci
keberhasilan perpindahan penduduk. Proses sosial ini akan menjadi
perbincangan sosiologis, berkaitan dengan integrasi atau disintegrasi
kelompok baru. Tentu saja hal ini penting untuk dicermati, sebab
situasi yang tidak menentu terkadang menjadi awal munculnya perbedaan
pendapat yang tak jarang berakhir dengan konflik sosial.
Untuk
itu yang terpenting dari sebuah upaya perpindahan penduduk adalah
menempatkan masyarakat sebagai pemegang kunci, penentu, atau pengambil
keputusan. Harapan kita bersama masyarakat dapat menentukan pola
perpindahan sendiri sehingga jika perpindahan itu harus dilakukan maka
perpindahan dilaksanakan atas dasar kesukarelaan. Dalam kerangka
demikian identitas dan kontrol masyarakat menjadi faktor utama.
Identitas
dan kontrol menyangkut bentuk masyarakat (baru) yang diharapkan.
Apabila memakai konsep bedol desa maka wilayah baru yang dibangun untuk
kehidupan warganya diarahkan untuk menciptakan kehidupan yang nyaman
dan aman. Dalam kualitas seperti itu, maka wilayah tersebut harus
memenuhi syarat-syarat: (1) nyaman ditinggali, (2) tidak ada rasa
takut, (3) adanya akses terhadap imaginasi dan kegembiraan, (4)
tersedia ruang publik dan komunitas, (5) keadilan, serta (6)
kemandirian ekonomi (Drajat Tri Kartono, 2001). Untuk itu wilayah
tersebut hendaknya dikembangkan dengan memperhatikan aspek ekonomis,
historis, kultural, sosiologis, juga partisipasi masyarakat.
Setiap
perubahan terhadap makna dan tata ruang memang harus didialogkan dengan
masyarakat. Ada ruang partisipasi publik, sehingga identitas yang
dikehendaki warga kemudian tidak tercerabut oleh kebijakan satu arah
dari pemegang kuasa. Dengan demikian masyarakat memiliki identitas dan
kontrol terhadap perkembangan kehidupannya untuk mempertahankan
keunikan dan karakter khasnya. Jika demikian adanya, perubahan sosial
akan berjalan dengan damai dan bermanfaat bagi masyarakat.
Blogged with Flock
Menyiapkan perubahan sikap manusia terhadap Lingkungan.
Perubahan yang dimaksud disinibukanlah transformasi yang diartikan sebagai perubahan seluruhnya (dari teknologi,sosial budaya dan ekonomi). Perubahan disini lebih kepada perubahan hidupberperilaku, kebiasaan dalam hidup yang menunjang pada higienis, perilaku hidupbersih. Masih banyak masyarakat kita yang memiliki kebiasaan (bukan budaya lho)yang tidak higienis, seperti makan tanpa mencuci tangan terlebih dahulu. Dikatakantidak higienis karena bisa saja ditangannya terdapat bibit penyakit atau,terselip dikuku hitamnya, telur-telur cacing hal ini dapat mengakibatkanseseorang menderita cacingan.
Begitujuga sikap manusia terhadap air. Walaupun agak jauh berhubungan; pernah denger tentang air yang di beri doa-doa ala dalai lama, dikatakan “kamu baik”, “kamujelek”, dihadapkan pada gambar lukisan pegunungan, didengarkan lagu lagu klasiksemacam Bethoven, mozart, suara tarian kecak dari bali, lagu rock. Perbedaanrespon air yang berasal dari berbagai kota besar dan dari pegunungan. Semuanya ditelitioleh seorang peneliti jepang “Masaru” ternyata air memberikan respon yangberbeda-beda. Apabila dikatakan baik, didengarkan doa-doa, lagu klasik maka airakan membentuk kristal-kristal yang bagus, bila dikatakan jelek, bodoh didengarkanlagu rock maka air akan membentuk kristal yang semrawut dan jelek bahkan tidakberbentuk. Inti sebenarnya yang dapat ditarik dari penelitian ini bukan hanyaterbatas pada air tapi pada seluruh ciptaan Nya. Betpa kita harus hati-hati /menghormatipada tanah, air, udara mahluk mahluk yang ada di dunia ini.
Khususnyapada lingkungan, manusia telah begitu banyak menimbulkan kerusakan pada bumiini. Limbah, kotoran, sampah dibuang begitu saja tanpa mengindahkan lingkungandan mahluk lain. Responnya dari lingkungan dapat kita lihat seperti menyebabkanpenyakit, sumber vektor bahkan menjadi bencana alam.
Kasus ang sedang merebak saat ini contohnya flu burung, orang yang terkena dampakpenyakit flu burung sebagai hasil dari penularan unggas ke manusia merupakansalah satu penampakan dari masalah. Masalah sebenarnya ada dibelakang kasus tersebut. Mengobati manusia yang terjangkit dan membunuh unggas-unggasmerupakan sebagian dari penyelesaian masalah. Bila dilihat latar belakanglingkungannya coba lihat dan amati apakah mereka dapat menjaga kebersihanlingkungan sekitar kandang? Cara yang paling efektif agaknya dengan mempelajaridaur hidup virus tersebut dan bagaimana unggas dapat terjangkit, sehingga dapatditemukan pemutus lingkaran setan kasus tersebut.
Ingat motto 3 M, menguras, menutup dan mengubur (emangnya orang, klo mati dikubur)dalam memberantas penyakit demam berdarah. Hal ini merupakan salah satu carauntuk memutuskan rantai dari daur hidup nyamuk Aedes Aegypti. Dengan mengobatimanusia yang terjangkit, hanya menyelesaikan satu masalah, tapi dengan 3M dapatmenyelesaikan masalah lebih besar.
Walaupundemikian terdapat beberapa indigenous power atau kearifan lokal yang dapat ditemui di masyarakat, hal ini patutditiru dan jangan sampai dalam melakukan perubahan malah menghilangkan kearifanyang sudah ada akan tetapi dapat digunakan untuk mendukung pelaksanaan program.Contohnya di Bali, nelayan disana sebelum melaut, melakukan sembahyang dulu,dengan tujuan untuk menghormati laut sebagai sumber penghidupannya. Bahkan sakinghormatnya pada laut hingga sampah yang kecilpun seperti puntung rokok engganmereka buang ke laut. Ketika habis merokok, mereka padamkan kemudian menyimpanpuntungnya untuk dibuang ditempat semestinya. Jangan contoh merokoknya tapicontohlah rasa penghormatannya pada laut dengan tidak membuang sampahsembarangan.
Seperti yang terlihat pada gambar1 dalam mempersiapkan perubahan sikap masyarakat terhadap lingkungan kita harusmemperhatikan hal diatas.
Penilaian peran serta diartikan sebagai penilaian akan kebiasaan dan budaya yang potensial untuk dikembangkan ataudiangkat sebagai pendukung program. Misalnya gotong royong yang terdapat dimasyarakat pedesaan dapat mendukung program yang akan dilaksanakan. Keberadaan Komando teritorial seperti babinsa dan koramil dapat membantu menyukseskan programpemerintah dalam artian yang baik. Peran serta mereka sangat penting mengingat mereka adalah pengayom masyarakat yang telah dapat berbaur lebih dulu dibanding kita.
Teknologi yang diterima diartikansebagai teknologi yang dapat diterima oleh masyarakat baik itu dalam segibiaya, teknis, penggunaan dan pemeliharaan. Para ahli yang tidak berpikirsistemik biasanya hanya mementingkan dari segi teknis tanpa memperhitungkan halyang lainnya, dan akhirnya teknologi tersebut rusak akibat salah penggunaan, tidakterpelihara atau bahkan enggan digunakan oleh masyarakat.
Contohnya dalam pengadaan wc umum, didaerah yang memiliki kebiasaan buang air besar dikebun (anggap saja disebut “Dolbon”) sistem pengolahan seperti apa yang dapat diterapkan, kita mungkin akan langsungmenentukan, digunakan sistem riol, pengolahan, air olahan yang jernih dibuangke sungai. Dari segi teknis mungkin sangat baik, tapi apa dapat diterima olehmasyarakat pengguna, belum tentu. Dalam kebiasaan Dolbon ini ternyata adaprinsip ; apa yang dibuang oleh manusia masih dapat bermanfaat, masyarakattidak terganggu oleh kebiasaan ini karena alam masih mampu mengatasinya, masihada mekanisme self purification olehalam.
Komunikasi dengan masyarakat jangan sampai terlewat. Apapun yang akan diterapkan sebaiknya dikomunikasikan,sehingga dapat diketahui apa keinginan mereka dan mereka dapat menerima apayang mereka inginkan. Adapun dalam penyampaian sesuaikan dengan kemampuanmereka menangkap pesan, tidak perlu seperti memberi kuliah kepada mahasiswaatau menggurui seperti pada anak sekolah, yang penting apa yang disampaikanoleh instruktur dan diutarakan oleh peserta dapat dimengerti oleh masing-masingbelah pihak.
Selanjutnya beralih ke strategi pelaksanaan. Dalam masyarakat kita harus mengetahui perbedaan struktur sosial ekonomi dan budayayang ada didalamnya. Pengambilan keputusandalam masyarakat ditentukan oleh siapa, apakah oleh konsensus atau oleh pemukaadat yang suaranya mewakili masyarakat. Jangan sampai kita terkecoh dengankomitmen diantara mereka, ternyata pengambil keputusan tidak mewakili seluruhmasyarakat hanya golongannya saja, hal ini akan menimbulkan konflik. Cara yangpraktis dalam mengetahui siapa pengambil keputusan sebenarnya adalah dengannarasumber yang dapat diajak bicara tentang masyarakat atau wilayah tersebutseperti : guru sd, pemuka agama, bidan yang kira-kira memiliki keinginan untukmaju tidak ABS (asal bapa senang).
Komposisi penduduk tentu sangat beragam mulai dari yang trampil, tidak terampil dan tertarik. Menarik bila kitamendapati masyarakat yang terampil dan dia tertarik untuk ikut program akantetapi akan menjadi kendala bila trampil dan tidak tertarik, biasanya akanmenjadi penghalang dalam kemajuan karena hanya mengkritik saja tanpa memberikasolusi. Orang yang terampil dapat digunakan untuk mendukung program, contohnya dalampengadaan air bersih, seperti tukang bangunan dan montir dapat menjadi perintisdan membangun program yang akan dikembangkan. Hal ini berhubungan dengan penggunaan peran serta yang telahdisebutkan diawal, yaitu melibatkan sesuai teknik khusus yang dimiliki.
Pendekatanke pada masyarakat dapat melalui pendekatan sosiologisterkait, seperti agama dan budaya. Studimasyarakat dapat dilakukan untuk mengetahui standar kesehatan masyarakat,tingkat kesadaran akan water bornedisease, pola kepemimpinan yang berdasar konsensus / pemuka, bahan bangunan,tenaga yang tersedia, kemampuan membayar.
Contohlah pengadaan fasilitas MCK di pedesaanAsmat. Perlu digambarkan bahwa mereka buang air tidak di lingkungan rumahnyatetapi di perjalanan antara rumah ke tempat pengambilan sagu. Dan ada isu yangcukup penting bahwa buangannya itu tidak boleh tercium karena dapat menyebabkanpeperangan. Selain itu pengadaan bahan bangunan sulit dilakukan, batu pun dapatmenjadi maskawin karena sangat jarang sekali ada batu disana. Disinilah tantangannyabagaimana memindahkan MCK ke lingkungan rumahnya tanpa menimbulkan bau, bahanapa yang digunakan untuk mengganti bahan bangunan seperti pvc, lem, semen, batudan pasir. Mereka menggantinya dengan bahan-bahan lokal seperti kayu, getah,pasak. Adapun untuk rancangan WC harus disesuaikan dengan kondisi merekamengingat isu yang sangat sensitif.
Blogged with Flock





