Teknologi Tepat Guna Penjernihan Air Dengan Biji Kelor (Moringa Oleifera)
Teknologi Tepat Guna
Teknologi tepat guna, mengutip dari wikipedia, merupakan teknologi yang sesuai dengan negara yang berkembang atau daerah yang berada jauh dan terbelakang di negara industri, yang mana kemungkinan kekurangan uang dan kurang dalam kemampuan untuk mengoperasikan dan memelihara teknologi tinggi. Dalam prakteknya adalah sesuatu yang dideskripsikan sebagai teknologi yang sederhana dan kebanyakan sebagai teknologi permulaan yang dapat secara efektif dapat mencapai tujuan yang dimaksud.
Karakteristik dari teknologi ini adalah biaya rendah dan membutuhkan sedikit pemeliharaan. Semakin sering pemeliharaan dapat dikatakan tepat guna, bila pemeliharaan dapat diatasi oleh keahlian yang ada secara setempat, peralatan, dan bahan. Hanya disebut tepat guna bila menggunakan teknologi yang dapat diperbaiki secara setempat.
Disisi lain teknologi tepat guna dipandang sebagai teknologi yang dapat sesuai dengan lebih dari satu atau lebih penggunaan tertentu, khususnya digunakan secara setempat oleh anggota dari komunitas tertentu. Sebagai contoh adalah penggunaan secara langsung dari energi surya di India. Komunitas Auroville di Pondicherry India, telah memasang “Solar Bowl” yang besar, digunakan sebagai alat masak energi surya. Digunakan di tempat yang memiliki iklim yang memungkinkan matahari bersinar dengan cerah.
Teknologi tepat guna tidak berarti teknologi yang rendah. Penggunaan cahaya dari lampu LED kadang dapat digunakan di daerah yang terpencil dimana kebutuhan energi LED sangat sedikit sehingga dapat menghemat energi.
Dengan mengutamakan biaya yang rendah, penggunaan bahan bakar fosil yang sedikit, dan menggunakan sumber daya lokal dapat memberikan keuntungan yaitu keberlanjutan.
Pengolahan air
Air beserta sumber-sumbernya merupakan salah satu kekayaan alam yang mutlak dibutuhkan oleh mahluk hidup guna menopang kelangsungan hidupnya dan memelihara kesehatannya. Air yang mengisi lebih dari dua pertiga bagian dari seluruh permukaan bumi, memberi tempat hidup yang 300 kali lebih luas dari pada daratan, akan tetapi sebagian besar dari air tersebut tidak dapat langsung digunakan untuk kepentingan mahluk hidup. Hanya 1% yang merupakan air manfaat yang dapat dipergunakan sebagai air bersih, untuk menjadi air bersih / air minum harus mengalami suatu Teknologi.
Teknologi yang diterapkan mulai dari pengambilan air baku, pengolahan air untuk menjadi air bersih yang sangat tergantung kualitas sumber air baku, kemudian melaui system distribusi melalui perpipaan ke area pelayanan.
Pengolahan Air dilakukan pada air baku yang pada hakekatnya tidak memenuhi standar kualitas air minum/bersih yang berlaku, sehingga unsur-unsur yang tidak memenuhi standar perlu dihilangkan ataupun dikurangi, agar seluruh air memenuhi standar yang berlaku. Hal ini dilaksanakan dengan pengolahan air. Teknologi untuk pengolahan air yang sangat tergantung dari sumber air baku dengan kualitas air yang bermacam-macam untuk dapat diolah.
Pusat-pusat pengolahan air perkotaan atau municipal water treatment dengan skala besar mengolah air dengan cara menambahkan senyawa kimia penggumpal (coagulants) ke dalam air kotor yang akan diolah. Dengan cara tersebut partikel-partikel yang berada di dalam air akan menjadi suatu gumpalan yang lebih besar lalu me- ngendap. Baru kemudian air di bagian atas yang bersih dipisahkan untuk digunakan keperluan sehari-hari. Namun demikian, zat kimia penggumpal yang baik tidak mudah dijumpai di berbagai daerah terpencil. Andaipun ada pasti harganya tidak terjangkau oleh masyarakat setempat.
Salah satu alternatif yang tersedia secara lokal adalah penggunaan koagulan alami dari tanaman yang barangkali dapat diperoleh di sekitar kita. Penelitian dari The Environmental Engineering Group di Universitas Leicester, Inggris, telah lama mempelajari potensi penggunaan berbagai koagulan alami dalam proses pengolahan air skala kecil, menengah, dan besar.Penelitian mereka dipusatkan terhadap potensi koagulan dari tepung biji tanaman Moringa oleifera. Tanaman tersebut banyak tumbuh di India bagian utara, tetapi sekarang sudah menyebar ke mana-mana ke seluruh kawasan tropis, termasuk Indonesia. Di Indonesia tanaman tersebut dikenal sebagai tanaman kelor dengan daun yang kecil-kecil.
Moringa oleifera
Sinonim: Moringa pterygosperma,Gaertn.
Nama Lokal :
Kelor (Indonesia, Jawa, Sunda, Bali, Lampung), Kerol (Buru); Marangghi (Madura), Moltong (Flores), Kelo (Gorontalo); Keloro (Bugis), Kawano (Sumba), Ongge (Bima); Hau fo (Timor).

Tanaman tersebut juga dikenal sebagai tanaman “drumstick” karena bentuk polong buahnya yang memanjang meskipun ada juga yang menyebut sebagai “horseradish” karena rasa akarnya menyerupai “radish”.
Kelor (moringa oliefera) termasuk jenis tumbuhan perdu yang dapat memiliki ketingginan batang 7 -11 meter. Di jawa, Kelor sering dimanfaatkan sebagai tanaman pagar karena berkhasiat untuk obat-obatan. Pohon Kelor tidak terlalu besar. Batang kayunya getas (mudah patah) dan cabangnya jarang tetapi mempunyai akar yang kuat. Batang pokoknya berwarna kelabu. Daunnya berbentuk bulat telur dengan ukuran kecil-kecil bersusun majemuk dalam satu tangkai. Kelor dapat berkembang biak dengan baik pada daerah yang mempunyai ketinggian tanah 300-500 meter di atas permukaan laut. Bunganya berwarna putih kekuning kuningan dan tudung pelepah bunganya berwarna hijau. Bunga kelor keluar sepanjang tahun dengan aroma bau semerbak. Buah kelor berbentuk segi tiga memanjang yang disebut klentang (Jawa). Buahnya pula berbentuk kekacang panjang berwarna hijau dan keras serta berukuran 120 cm panjang. Sedang getahnya yang telah berubah warna menjadi coklat disebut blendok (Jawa).

Budidaya tanaman Moringa atau kelor memerlukan pemeliharaan yang sangat minimal dan dapat tahan pada musim kering yang panjang. Cepat tumbuh sampai ketinggian 4-10 meter, berbunga, dan menghasilkan buah hanya dalam waktu 1 tahun sejak ditanam. Tanaman tersebut tumbuh cepat baik dari biji maupun dari stek, bahkan bila ia ditanam di lahan yang gersang yang tidak subur. Sehingga baik bila dikembangkan di lahan-lahan kritis yang mengalami musim kekeringan yang panjang.
Penjernihan air
Biji kelor dibiarkan sampai matang atau tua di pohon dan baru dipanen setelah kering. Sayap bijinya yang ringan serta kulit bijinya mudah dipisahkan sehingga meninggalkan biji yang putih. Bila terlalu kering di pohon, polong biji akan pecah dan bijinya dapat melayang “terbang” ke mana-mana.
Biji tak berkulit tersebut kemudian dihancurkan dan ditumbuk sampai halus sehingga dapat dihasilkan bubuk biji Moringa. Jumlah bubuk biji moringa atau kelor yang diperlukan untuk pembersihan air bagi keperluan rumah tangga sangat tergantung pada seberapa jauh kotoran yang terdapat di dalamnya. Untuk menangani air sebanyak 20 liter (1 jeriken), diperlukan jumlah bubuk biji kelor 2 gram atau kira-kira 2 sendok teh (5 ml).
Tambahkan sedikit air bersih ke dalam bubuk biji sehingga menjadi pasta. Letakkan pasta tersebut ke dalam botol yang bersih dan tambahkan ke dalamnya satu cup (200 ml) lagi air bersih, lalu kocok selama lima menit hingga campur sempurna. Dengan cara tersebut, terjadilah proses aktivitasi senyawa kimia yang terdapat dalam bubuk biji kelor.
Saringlah larutan yang telah tercampur dengan koagulan biji kelor tersebut melalui kain kasa dan filtratnya dimasukkan ke dalam air 20 liter (jeriken) yang telah disiapkan sebelumnya, dan kemudian diaduk secara pelan-pelan selama 10-15 menit.
Selama pengadukan, butiran biji yang telah dilarutkan akan mengikat dan menggumpalkan partikel-partikel padatan dalam air beserta mikroba dan kuman-kuman penyakit yang terdapat di dalamnya sehingga membentuk gumpalan yang lebih besar yang akan mudah tenggelam mengendap ke dasar air. Setelah satu jam, air bersihnya dapat diisap keluar untuk keperluan keluarga.
Efisiensi proses
Proses pembersihan tersebut menurut hasil penelitian yang telah dilaporkan mampu memproduksi bakteri secara luar biasa, yaitu sebanyak 90-99,9% yang melekat pada partikel- partikel padat, sekaligus menjernihkan air, yang relatif aman (untuk kondisi serba keterbatasan) serta dapat digunakan sebagai air minum masyarakat setempat.
Namun demikian, beberapa mikroba patogen masih ada peluang tetap berada di dalam air yang tidak sempat terendapkan, khususnya bila air awalnya telah tercemar secara berat. Idealnya bagi kebutuhan air minum yang pantas, pemurnian lebih lanjut masih perlu dilakukan, baik dengan cara memasak atau dengan penyaringan dengan cara filtrasi pasir yang sederhana.
Pustaka
- FG Winarno, Senior scientist M-Brio Biotekindo, Guru Besar Bioteknologi Unika Atma Jaya, Biji Kelor Untuk Bersihkan Air Sungai, Kompas, http://www.ampl.or.id/wawasan/wawasan-isi-pustaka.php?kode=21
- Iptek – Apji, Penjernihan Air Dengan Biji Kelor (Moringa Oleifera) http://iptek.apjii.or.id/pengelolaan%20air%20&%20sanitasi/PIWP/penjernihan_air_biji_kelor.html
- IPTEKnet, 2005, TANAMAN OBAT INDONESIA, Kelor (Moringa oleifera, Lamk.), http://www.iptek.net.id/ind/pd_tanobat/view.php?id=144
- Moringa oleifera, http://www.prn2.usm.my/mainsite/plant/moringa.html
- PUSKIM, Instalasi Pengolahan Air (IPA) dengan Biji Kelor dan Pohon Kelor http://www.kimpraswil.go.id/balitbang/puskim/protek_kim/ttg_kim_270701/ttg_kim_ispadbk.htm
- PUSKIM, Teknologi Pasangan Bata – Teknologi Air Bersih, http://www.kimpraswil.go.id/balitbang/puskim/Homepage%20Modul%202003/modulc2/Modul%20Air%20Bersih.pdf
- Wikipedia, Appropriate Technology, http://en.wikipedia.org/wiki/Appropriate_technology






Artikel tentang kelor beserta manfaatnya sangat jelas, tapi bagaimana kalo ditambahkan kandungan kimia yang ada pada daun, akar dan buahnya, mungkin tambah lebih jelas lagi karena ada yang mengatakan kalau daun dan akarnya dapat digunakan sebagai obat alternatif asam urat. Terimakasih dan maaf sebelumnya.Saya tunggu!
jumat hadi
Juni 7, 2007 pada 9:10 pm
Menarik sekali membaca artikel ini, hingga saya kepingin sekali untuk menanam pohon kelor di halaman rumah, oleh sebab itu saya ingin bertanya, di mana saya bisa mendapatkannya bila saya berdomisili di Ragunan, Jakarta.
Terima kasih.
Abdurrauf
Agustus 1, 2007 pada 1:19 pm
penjernihan air dengan menggunakan ekstrak biji kelor memang sudah menjadi pilihan dalam pengatasi pencemaran air. tapi sepertinya pelaksanannya sulit dilakukan akibatnya masyarakat tetap menkonsumsi air (Ex: air sungai yang tercemar) yang natabene tidak layak minum
diana
Agustus 9, 2007 pada 4:43 am
Iya nyari dimana si tuh BIJI KELOR. mudah didapatkah..?
dI tanGERang kiRA-kirA ada Dimana?
akmal
Agustus 10, 2007 pada 5:30 am
BijI kelor adanya dimana aja sih?
berbuahnya tiap hari apa musiman?
kalo di TANGERANG ada ga?
kalo ada yang tahu kirim ke sini ya
akmalakbar@plasa.com
akmal
Agustus 10, 2007 pada 5:34 am
aku ada biji kelor silakan kontak ke 087870181552. mundirun.
mundirun
September 24, 2011 pada 4:37 am
Salam Ilmu Pengetahuan dan Teknologi!
saya sebenarnya sedang searching teknologi penjernihan air dan saya menemukan artikel ini. menurut saya teknologi ini sangat bagus ya..
tapi, ada 3 pertanyaan ni:
1.begini,kan utk 20L air diperlukan 2gram atau 2ml bubuk tersebut. klo saya ingin menjernihkan secara kontinu, tiap hari, sepertinya repot klo harus menambahkan bubuk tiap hari?gmn tuch?apa ada pengolah bubuk kelor otomatis yang secara otomatis menambah bubuk tersebut bila kandungannya berkurang?
2.tolong beritahu saya, di desa mana saja yang sudah menggunakan teknologi ini?
lalu,
3.Tolong ditanggapi peryataan dibawah ini;
Sudah banyak teknologi atau penemuan yang sangat bermanfa’at ditemukan. Tapi, mengapa penerapannya minim?apakah kita semua berlomba-lomba utk menemukan sesuatu yang bermanfa’at tapi melupakan apakah penemuan kita sebelumnya sudah dimanfa’atkan?!
harap brbagi ilmu pada saya bila ada artikel terbaru tentang penemuan yang tentu saja bermanfa’at.
Akasa
Agustus 10, 2007 pada 7:27 am
daun kelor itu kalau di sunda namanya daun apa ya…………..aduch q ga tau ada yang tau ga
kalau ada yang kasih tau donx
siti
Agustus 29, 2007 pada 8:10 am
mungkin di tanggewrang ada
coba ajha cari…….,,,;;;”][
owwwwwwhhhhh ya sit
kayaqna phn kelor tu payah di jumpai dechh
tapi jgn menyerah
CARYYYY TRUZZZZZ
CHAIIII YYYYOOOOO
gesti
Januari 29, 2010 pada 6:00 am
saya selaku siswa SMK Kimia Industri Santo Paulus menginginkan teknologi tepat guna untuk taraf siswa SMK, khususnya untuk bahan praktek ekstrakurikuler.terima kasih
satriawan_lohan@plasa.com
satriawanstylus
September 4, 2007 pada 11:34 am
saya mahasiswa kimia mipa menginginkan teknologi tepat guna untuk tugas akhir saya yang sekiranya bisa lebih murah untuk dijadikan bahan penelitian.Terimakasih
echa
September 6, 2007 pada 1:35 am
penelitiannya cukup menarik dan sangat bermanfaat. saya ingin membuat tulisan tentang tanaman kelor ini, kalau boleh tau tanaman kelor ini di jawa dapat ditemukan didaerah mana saja(daerah penghasil tanaman kelor)? dan dalam 1 hektar lahan dapat di tanami berapa pohon tanaman kelor. terimakasih
kartika
September 27, 2007 pada 3:49 am
bukanya daun kelor untuk ngusir setan???????
tukimin
Oktober 21, 2007 pada 8:44 am
huwwwwww so’tw
ahsan
Maret 22, 2012 pada 11:14 am
tolong di beri makalahnya donk
fatih al faruq
Maret 22, 2012 pada 11:17 am
salam ilmu pengetahuan,menurut saya teknologi ini sangat bagus ya..
penelitiannya cukup menarik dan sangat bermanfaat. saya ingin membuat tulisan tentang tanaman kelor ini, kalau boleh tau tanaman kelor ini di jawa dapat ditemukan didaerah mana saja(daerah penghasil tanaman kelor)? dan dalam 1 hektar lahan dapat di tanami berapa pohon tanaman kelor. terimakasih
ada tiga pertanyaan ni:
1.begini,kan utk 20L air diperlukan 2gram atau 2ml bubuk tersebut. klo saya ingin menjernihkan secara kontinu, tiap hari, sepertinya repot klo harus menambahkan bubuk tiap hari?gmn tuch?apa ada pengolah bubuk kelor otomatis yang secara otomatis menambah bubuk tersebut bila kandungannya berkurang?
2.tolong beritahu saya, di desa mana saja yang sudah menggunakan teknologi ini?
lalu,
3.Tolong ditanggapi peryataan dibawah ini;
Sudah banyak teknologi atau penemuan yang sangat bermanfa’at ditemukan. Tapi, mengapa penerapannya minim?apakah kita semua berlomba-lomba utk menemukan sesuatu yang bermanfa’at tapi melupakan apakah penemuan kita sebelumnya sudah dimanfa’atkan
rahmat gilang.r
Oktober 21, 2007 pada 8:55 am
daun kelor buat ngusir setan????
huahahahaha
ngelaba…..
ada deh
November 12, 2007 pada 11:42 am
daun kelor buat ngusir setan?????
huahahahahaha
ngelaba….
ada deh
November 12, 2007 pada 11:43 am
inovasi yang baik tuch……..
henny
November 13, 2007 pada 1:21 pm
saya rasaq artikel ini perlu di baca Menteri Lingkungan Hidup
chesya
November 19, 2007 pada 6:38 am
hmm, kalo boleh tau..
selain pake biji kelor, mungkin ga ya pake akarnya??
kyknya lebih efisien tuh kalo bisa..
Kevin
November 19, 2007 pada 3:27 pm
sy tertarik dgn artikel ini, pertanyaan sy adalah kenapa penemuan bagus seperti ini tidak terpublikasikan secara luas?, karena saya rasa ini dapat memberikan solusi rendahnya kualitas air minum di indonesia (apa pihak PDAM belum mengetahui hal ini?,), sudah seberapa jauh bukti empiris dilakukan?, dan penerapannya dimana saja?.
terimakasih sebelumnya…
venny
Desember 21, 2007 pada 6:05 am
>.<a
oxta
Januari 16, 2008 pada 1:05 pm
penjernihan air dng biji kelor udah biasa. bisa nggk dibahs manfaat tanaman kelor lebih jauh n tlg ksh tau buku,situs,jurnal dll yang membahas ttg kelor. thx
Sanny
April 5, 2008 pada 2:45 pm
kalo boleh ku minta makalah nya tentang biji kelor
ubaid
Mei 4, 2008 pada 4:17 pm
bolehkah saya tahu kanddungan senyawa dalam biji kelor?
abdurrahman
Mei 7, 2008 pada 6:43 am
artikel mengenai penjernihan air ini menarik, dari artikel dapat saya simpulkan bahwa biji kelor fungsinya sama denga tawas sebagai koagulan,tapi juga bisa mengikat bakteri yang ada di air kecuali baktari patogen, tolong kasih tau senyawa apa yang ada dalam bijikelor tersebut ? tolong dibalas karena jawabannya saya perlukan sebagai materi pengajaran PLH , terimakasih
Rys
Mei 8, 2008 pada 3:48 am
bolehkah sy minta proses penjernihan air yang menggunaka kerikil, ijuk, arang, pasir, dll untuk proses pembelajaran. i hope u can sand for me ! plizzzzzzzz
yoga
Mei 8, 2008 pada 8:38 am
klu bleh tau apakah cuma biji kelor aja yg d gunakan untuk artikel anda. maksudnya dak ada campurannya gitu. seperti yg aq blng tadi kan proses yg aq blng itu terdiri dari beberapa lapisan. nah klu biji kelor ini, dak ada lapisan lain ato gimana? klu ada tlng d jawab ya. aq tunggu oK
yoga
Mei 8, 2008 pada 8:43 am
Bagaimana cara menjernihkan solar hasil penyulingan tradisional.
Devi Pebrianto
Juni 1, 2008 pada 2:28 pm
Salam To ALL,
Biar coba saya jawab beberapa pertanyaan di atas.
1. Biji dan daun kelor kadang kadang dijual di pasar tradisional. Carilah di beberapa pasar tradisional di kota setempat.
2. Saya belum pernah meneliti kandungan apa yang ada dalam kelor sehingga dapat menjernihkan air, sama seperti karbon aktif dari arang batok kelapa yang dapat menyerap bau,rasa tidak enak dan menjernihkan air dalam air.
3.Untuk comment no 12, bila repot menggunakan bubuk kelor dapar menggunakan batok kelapa(bukan sabut kelapa lho..)yang dibakar 2 s/d 4 jam hingga jadi arang. Sehingga tidak perlu repot terus terusan memberi bubuk kelor.
4. Untuk comment no 11, Hua..ha..ha..
Untuk Informasi tambahan seputar penjernihan air dapat di jelajahi di :
http://www.airminumisiulang.com/page.php?istilah-penyaring-air-dan-penjernih-air
M. Yusuf
Juni 17, 2008 pada 9:57 am
Sorry, tambahan,
Untuk penjernihan air 1 jerigen menggunakan bubuk biji kelor 1 sendok makan, untuk 1 drum 10 sendok makan (20 Gram). Caranya: Masukkan dulu 10 gram bubuk dalam ember kemudian aduk hingga merata lalu masukkan dalam drum dan aduk merata,biarkan kira kira 2 jam hingga kotoran mengendap. Untuk konsumsi air minum sebaiknya direbus terlebih dahulu.
Bubuk biji kelor dapat digunakan untuk pengendapan air berkadar zat besi tinggi (merah),air sungai yang keruh,air bor yang berbau dan kuning,kecuali air yang berminyak. Sebenarnya air berminyak dapat pula difilter dengan menggunakan Oil Trapper yang dapat dibuat sendiri di rumah.
M. Yusuf
Juni 17, 2008 pada 10:28 am
artikel yg sangat bagus…
di kampong saiya banyak tanaman pohon kelor,bahkan hampir di setiap rumah ada phn trsb.
selama ini yg saya tau daun+buahnya(klentang) di pke untuk sayur,dan terkadang di pke untuk memandikan (maaf)mayat (untuk daunnya).
makasih bannget tuk artikelnya..
j4ck
Agustus 15, 2008 pada 6:46 am
salam kenal , saya yoseph kusumo di bekasi, apa bapak mempunyai bibitnya biji kelor pak ? daerah bapak dimana, saya mau beli bijinya yang kering, kebetulan daerah saya airnya kuning banyak mengandung zat besinya, tolong miss call ke saya ke 081213970777, atau 085813236777 email saya ; yoseph.kusumo@yahoo.co.id. tks atas kerjasamanya
yosephkusumo
Agustus 24, 2011 pada 10:27 pm
Kalau punya buah kelor muda ( klentang ) bisa contac ke saya. Saya perlu untuk pasar Timur Tengah. Contac saya di 0852 1928 4375 atau di santosoirawan55@yahoo.co.id
Irawan Santoso
Januari 17, 2013 pada 3:26 am
Artikel ini sangat gaul sekali ,aku sampai terawa terbahak bahak ketika melihat artikel ini
salam gaul unuk yang membuat artikel ini
I Wayan Putra
September 2, 2008 pada 1:28 pm
terima kasih atas kesediannya untuk membuat artikel ini
dan jangan lupa salam gaul untukmu
I Wayan Putra
September 2, 2008 pada 1:31 pm
kirimin saya hasil-hasil eksperimen teknologi yaaa!!!
moenginsidi
September 9, 2008 pada 6:34 am
artikelnya bagus-bagus. kalo berkenan,tolong kirim artikel-artikel lain ke email saya.
terimakasih.
hasan sas
September 11, 2008 pada 2:51 am
mau nanya, kandungan kimia biji kelor itu apa? kalo minyak dan lemak, jenisnya apa aja? gmana sifat fisiknya? makasih….
Cahya
Oktober 13, 2008 pada 4:36 am
salam buat semua,
bagaimana kalau mas/mbak kharistya, penulis artikel ini kirim surat ke ITB atau yg lain biar nanti ada penjelasan dari sana trus dimuat lagi jawaban suratnya di sini meski udah 2 tahun lebih umur artikel ini, kan ndak apa2 toh masih ada manfaatnya setuju ndak mas/mbak kharistya
na2ng
Oktober 22, 2008 pada 8:55 am
saya sangat tertarik dengan tanaman kelor sebagai penjernih air yang alami. saya minta tolong kepada penulis kalo punya bahan2 tentang tanaman kelor sebagai penjernih air kirimkan dong ke email saya .makasih banyak
fadhila
Oktober 27, 2008 pada 5:55 am
saya ingin tahu apakah kelor dapat membuat warna air hijau bisa bening dan dibutuhkan berapa banyak trim
tumus yalanidi
Oktober 28, 2008 pada 6:07 am
saya ingin bertanya, kandungan senyawa apa saja yang ada pada daun kelor beserta fungsinya masing-masing? saya sudah berusaha mencarinya di beberapa literatur, tetapi tetap saja tidak menemukan. apa mungkin daun kelor mengandung senyawa yang dapat mematangkan pisang? mohon diberi penjelasan sejelas-jelasnya karena saya sangat membutuhkannya besok minggu, 9 nopember 2008. terima kasih atas informasinya.
rahma
November 7, 2008 pada 5:08 am
kalo ada tolong muat tentang briket arang kelapa
SIGIT WIDIATMOKO
November 8, 2008 pada 3:13 am
Menarik
Saya menggunakan Azolla Pinata dalam filterisasi air
artikelnya bagus
terima kasih
Red Dog
November 24, 2008 pada 4:22 am
bagaimana cara yang simpel menggunakan
azwar
November 26, 2008 pada 1:01 am
apa seh gunanya ditetapkan standar baku air???
da yang tw ngg’???
uthi
Januari 6, 2009 pada 6:45 am
artikel tentang biji kelornya sangat bangus sekali, kebetulan saya sekarang lagi nyusun TA tentang penjernihan air.
kalau boleh saya dikirimkan makalah atau artikel lengkap tentang biji kelor sebagai koagulan
rencanananya nanti saya akan jadikan acuan tentang penelitian saya lebih lanjut
terima kasih.
muhammad alkholif
Februari 10, 2009 pada 3:00 am
tolong dikirimkan artikel lengkap tentang biji kelor sebagai koagulan
muhammad alkholif
Februari 10, 2009 pada 3:29 am
Tambahan link untuk artikel yang berhubungan, semoga membantu.
http://www.lboro.ac.uk/well/resources/technical-briefs/60-water-clarification-using-moringa-oleifera-seeds.pdf
kharistya
Februari 16, 2009 pada 8:02 am
artikel cukup bagus akan saya coba untuk interaksikan dengan pelajaran penanganan limbah disekolah saya karena program keahlian disekolah saya Kimia Industri dan kimia analis
S.Tavip Rijanto
Februari 18, 2009 pada 10:22 am
artikel yang sangat bermanfaat. tapi gmn dgn standar baku mutu untuk air minum, terpenuhi nga ?
bagaimana dengan short dan long term use, apakah ada efek tertentu buat tubuh ?
apakah pernah dicoba kolaburasi dengan manggunakan metode atau bahan yang lain , biar output yang dihasikan lebih bagus..
priw
Februari 20, 2009 pada 2:14 am
plis Dech…… aquw tuch sama sekaleee… gag tauh apaan tuch dawun kelllllllloooooooRRRRRRRRR???
cyntia
Maret 27, 2009 pada 5:08 am
Teknologinya sangat baguz sangat menarik dan ada baiknya jika teknologi ini dipakai untuk penjernihan seluruh air sungai agar tidak tercemar kembali.
Arif Widianto
April 2, 2009 pada 2:37 am
Tambahan satu lagi
teknologi nie mungkin sangat sederhana tapi sangat banyak manfaatnya. Saya harap comment saya yang atas dilaksanakan, ya! Terima kasih atas teknologinya dan penyajian artikel yang baguz.
Arif Widianto
April 2, 2009 pada 2:42 am
Eh, arif comment juga!
hanya ada satu kalimat : “Terima kasih atas teknologinya”
Fadhly
April 2, 2009 pada 2:54 am
anda para pengguna teknologi yang inisiatif bangun desa…
saya dilampung siap melayani anda, apabila anda para penerap teknologi menginginkan buah kelor dalam jumlah banyak.
kirimkan speck dan quantity yang anda butuhkan, kami siap membantu pengadaannya
wixs2
April 3, 2009 pada 6:16 pm
saya rencana menyusun teknopreneur mengenai biji kelor,, mungkin saya nanti bisa menguhubungi anda, bis abantu kah??
nashri sobariah
Mei 25, 2012 pada 12:31 pm
oya lupa…
emailku. wixs23@gmail.com
wixs2
April 3, 2009 pada 6:17 pm
lutu juga ya pake biji kelor…
haha…
eh, kalo boleh tau, biji kelor ntu apa yah??
baby^^
April 7, 2009 pada 3:42 am
hmm, ada yang tau ga’??
oya, ngomong2 pada pa kbr smua ni??
baik atw bruk??
klo ada yang tau biji kelor ntu apa, hubungi aja ke 00000…^^
hehe…^^
baby^^
April 7, 2009 pada 3:46 am
Saya tertarik menggunakan teknologi ini, bagaimana penggunaan bubuk biji kelor pada tangki penampung air sumur pompa lingkungan rumah tangga? Berapa lama masa penggunaannya sampai harus diperbaharui lagi? Trims.
widi
Mei 8, 2009 pada 4:59 am
artikelnya sangat menarik….kenapa gak dari dulu saya baca ya buat bikin tugas.hehehe…
klo boleh tau, sampai saat ini sudah sejauh manakah penerapan teknologi ini? rasanya sulit juga klo kita mau memperbesar skalanya…gmn tuh menurut anda?
heri
Mei 28, 2009 pada 12:46 pm
artikel menarik, mudah dipahami.
namun apakah biji kelor hrs selalu di tumbuh halus?,
pertimbangan efesiensi proses nampaknya kurang simple. saya berpikir, apakah bisa dengan sistim filterisasi?.
misalnya : dari sekian media yg digunakan (mis: pasir, zeolit dll), kemudian di tambah serbuk biji kelor.
Apakah bisa mengikat zat-zat lain, seperti halnya didiskripsi dlam artikel tsb.
trimaksih.
asep
September 4, 2009 pada 2:08 am
Biyyuh… bagus itu ditempatku kayaknya ada, dulu banyak tapi habis digunakan untuk menghilangkan pengaruh ilmu santet…kebetulan kerjaku di gresik kurang air bersih soft copynya aku minta ya…
Huda
September 4, 2009 pada 4:05 am
Artikel yang bagus, bisa diterapkan dalam sekala kecil. tapi nyari pohon kelor agak susah.
masnur
September 11, 2009 pada 1:39 am
Klo untuk menjernihkan air di areal tanah gambut, yang mana air berwarna kecoklatan dan mengandung minyak bisa berfungsi dengan maksimal gak klo pake bubuk kelor?
sincera
Oktober 9, 2009 pada 10:33 pm
MANTAP…mau ta cari dan coba
sandri
November 12, 2009 pada 12:09 pm
buah kelor ada di sidoarjo nggak?
ayu
November 26, 2009 pada 4:26 am
sya dri kir sma 4 bjn mw menanyakan sesuatu. apakah biji kelor itu keringnya di pohon pa di keringkan sendri dngn cra di panaskan di matahari/oven
………………..??????????
agung dwi hermawan
November 26, 2009 pada 11:54 pm
lumayan buat bahan makalah kuliah thangks bro….
aji
Desember 15, 2009 pada 3:52 pm
Wah dulu waktu saya kecil banyak pohon kelor,saya belum tau manfaatnya sekarang udah tau malah susah nyari pohonnya…
Ibnun Nasir
Desember 26, 2009 pada 4:44 am
iya, tolong lah kasi tau saya dimn saya bisa dpatkan biji kelor itu ? atau kalo ada yg jual kirim info ke email saya ya. be_prasetiya@yahoo.com. terimakasih sebelumnya.
prasetia
Maret 27, 2010 pada 6:57 am
SALAM PERSAHABATAN. TEMEN-TEMAN YANG BUDIMAN JIKA INGIN MENGETAHUI LEBIH BANYAK TENTANG TANAMAN KELOR MAKA SAYA TELAH MENERBITKAN BUKU TENTANG BUDIDAYA TANAMAN KELOR DAN BEBERPA RESEP KELOR TERMASUK TEKNIK PENJERNIHAN AIR. SILAHKAN MENGHUBUNGI KE NO HP: 085237669708. PENULISSENDIRI. JOHANNIS W.D THERIK.JL. MT HARJONO XF/ MALANG JAWA TIMUR. KARENA ADA 3 SERI YANG AKAN SEGERA TERBIT LAGI. TERIMAKASIH. SALAM HORMAT. BOLOE LIHAT DI IKLAN FREE MENGENAI BUKU TERBITAN SAYA. BUDIDAYA TANAMAN KELOR VARIETAS LOKAL NTT DILENGKAPI DENGAN BERBAGAI RAMUAN PENGOBATAN TRADISIONAL. PENERBIT LAB ILMU FAAL FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA 2009.
Johannis .W.D
April 20, 2010 pada 3:26 pm
APABILA ADA YANG MEMBUTUHKAN BIBIT BIJI KELOR MAKA DAPAT HUBUNGI KE EMAl dtr_trk@yahoo.com atau ke HP. 085237669709. baik bibit maupun buku terbitan mengenai tanaman kelor dengan pola penanaman dan ramuan herbal hingga cara penjernihan air .
Johannis .W.D
April 20, 2010 pada 3:39 pm
saya membutuhkan referensi nya pak,,, saya dengan rekan mau mencoba membuat suatu prodak biji kelor yang bisa dipasarkan berupa serbuknya,,, terimakasih
nashri sobariah
Mei 25, 2012 pada 12:42 pm
wah,,keren
alhamdulillah saya sedang dalam proses praktikum penjernihan air
smga bsa membantu
noyalita
Juni 17, 2010 pada 8:54 am
عجيييييييييييييييب
ساره
Juli 13, 2010 pada 9:50 pm
عجيييييييييييييييب
KELOR
ساره
Juli 13, 2010 pada 9:54 pm
makasih atas artikelnya!!
bukan hanya kelor yang bisa menjernihkan air tapi semen juga bisa kok..
Miftah Farid
Agustus 4, 2010 pada 11:13 am
woww kleeeen gmna tu crany??
vie
Agustus 23, 2010 pada 12:40 am
Sangat tepat diaplikasikan pada daerah Indonesia yang sebagian besar memiliki air tanah yang bercampur batu dan tanah.
m-amin
September 7, 2010 pada 11:46 pm
Bisa jadi peluang bisnis yg ramah lingkungan dan mengurangi global warming. Sayang seperti jarak pagar yg bisa untuk biodiesel, sekarang kurang lagi gaungnya. Daripada proyek hayalan bioenergi lebih bagus yg beginian yg dikembangkan.
Chadi
September 20, 2010 pada 11:52 pm
rasax bkal brubah 9′?
bleeeeeeeeeeezzzzzzzz………..
angelia
Oktober 5, 2010 pada 2:01 pm
artikel yg menarik……
pepenefendi
November 15, 2010 pada 1:09 pm
benar-benar teknologi yang sangat tepat dan berguna bagi masyarakat Indonesia bukan hanya di pedesaan akan tetapi di daerah perkotaan yang tercemar……….
franklinsilaban
Januari 7, 2011 pada 6:36 am
waw fantastic q dukung banget ma penemuan thu selain alami efisien jg. d sumbawa bayak kok pohon kelor malahan d dpan rumah sya dibuang2 buah ya
anna
Februari 6, 2011 pada 6:02 am
KLo NYari Kelor Di Gresik tu AdanyA dMNA y…???
vahtur
Juni 13, 2011 pada 2:28 am
wah mantap tu…!!!! thx ya…!!!!!
Emser wanibesak
Juni 21, 2011 pada 8:59 am
Sebenernya sih bagus kalo di terusin….. tp, kenapa ya… kok gak ada yang mau terusin?????
arif f
September 24, 2011 pada 7:56 am
saya mau mencoba meneruskan membuat produk untuk di jualbelikan, untuk menggalahkan penggunaan bahan kimia, agar lebih ramah lingkungan
nashri sobariah
Mei 25, 2012 pada 12:43 pm
ehemb,,,,,,,,,,,,,,,,,
biji klor ea klox bji klor 4 quw bwanyak tpi bji klor 2 kyak mna eyah,,,,,,,? : )
mitha
Januari 15, 2012 pada 2:00 am
pengetahuan ini harus d perluas d berbagai linkungan
fatih al faruq
Maret 22, 2012 pada 11:23 am
thanks infonya gan..
btw, punten gan mo ngasih info menarik, barangkali ada yang mau alat PENJERNIH AIR GRATIS, silahkan berkunjung ke blog ane ini: http://www.blog.farisagency.com/barang-unik-gratis-water-purifier-bio-energy/, kebetulan lagi ada promo, makasih gan
penjernih air gratis
Juni 27, 2012 pada 5:35 am
thank’s yha tulisannya,,,,
Sarah Hs
Juli 26, 2012 pada 2:05 pm
Saya perlu buah kelor muda / klentang / drumstick yang biasanya untuk sayur asem. Kebutuhan saya sangat banyak. Bila ada yang bisa supply mohon contac ke : 0852 1928 4375
Irawan Santoso
Januari 17, 2013 pada 3:31 am
Alhamdulillah ternyata Pohon kelor banyak manfaatnya tapi di kebunku kadang saya tebangi dan dibiarkan ngegeletak ditanah, sapa yang mau tanam di stek mudah hidup kok
Midlle Madiyo
Mei 22, 2013 pada 2:55 am