Perjalanan menuju Gunung Rinjani bukan perjalanan biasa tetapi telah diidam-idamkan sejak lama, pesona alam rinjani sudah terbayang-bayang sejak awal masuk GPA perhimpunan pecinta alam di SMA. Cerita mengenai danau segara anakan yang sangat besar, ikan-ikannya yang bisa dipancing dan vegetasi yang beragam selama perjalanan di jalur pendakian seakan membius dan meresap dalam hati sanubari. Bisa dibilang ini adalah salah satu mimpi yang jadi kenyataan di tahun 2008. Bagaimana tidak, kesempatan untuk ke lombok saja sulit, selain waktu, beberapa lembar kertas yang dikeluarkan Bank Indonesia merupakan faktor utama yang menjadi hambatan ke daerah ini.

Sebelumnya terbayang untuk menuju pulau yang bertetangga dengan pulau dewata ini membutuhkan waktu yang benar-benar lowong, mungkin 1 hingga dua minggu, karena perjalanan darat saja butuh waktu 4 hari pulang pergi, dan untuk menikmati pendakian ke Rinjani minimal 4 hari. Kenikmatan mendaki pun terbayang berkurang akibat perjalanan darat yang begitu panjang. Biaya yang dibutuhkan pun tidak sedikit, sejak dulu persoalan ini sepertinya klasik, ingin berangkat tapi belum pernah ada usaha untuk menabung. Tapi apabila ada kelebihan uang dan kesempatan waktu yang panjang pasti ingin berangkat. Selain itu sulitnya menyesuaikan waktu dengan teman-teman lain yang berminat ke sana, menjadikan perjalanan ini seperti tidak mungkin dilaksanakan.

Wisata yang dilakukan para dosen di lingkungan FTIP mungkin tidak begitu menarik minat bila saja tujuannya bukan pulau lombok. Sejak ditawarkan untuk ikut, saya selalu anggap bukan hal yang besar, biasa saja, ikut syukur tidak ikut juga tidak apa-apa. Apabila bisa ikut saya bisa menyempatkan waktu melakukan pendakian gunung rinjani, apabila tidak ikut ya mungkin bukan rejeki. Lagipula dua minggu terakhir walaupun telah ditawarkan ikut dan saya mau, ternyata saya belum masuk dalam list peserta yg ikut, karena tempat yang disediakan sudah habis. Mmmhhh…aneh, tetap saja saya berusaha menyiapkan perjalanan ke Gunung Rinjani.

Persiapan peralatan sudah barang tentu menjadi hal yang penting, sampai-sampai saya mengacu pada list barang pendidikan dasar GPA, takutnya ada barang-barang yang dibutuhkan tetapi tidak terbawa, akhirnya merepotkan dan tidak menikmati selama pendakian. Informasi mengenai rinjani pun menjadi prioritas, karena saya pergi seorang diri tentunya harus menyiapkan perjalanan sematang mungkin. Mulai dari informasi jalur yang akan dilewati, camp area dan mata air sepanjang jalur, jasa porter, perijinan masuk Gunung rinjani, tempat bermalam selama di lombok setelah berpisah dengan rombongan FTIP dan orang yang bisa dijadikan kontak di lombok.

Untuk menyiasati kemudahan selama proses pendakian, tentu saja semua barang disiapkan semua di bandung, sehingga bila sampai lombok tidak perlu lagi memikirkan mencari perlengkapan atau belanja bahan makanan. Alat-alat masak, makanan selama pendakian, perlengkapan tidur dan benda-benda kecil lain yang dibutuhkan selama perjalanan disiapkan. Terkecuali tenda dome yang memang tidak dibawa dari bandung, rencananya memang meminjam dari mapala atau sewa dari penyedia jasa peminjaman di desa terakhir pendakian.

Informasi mengenai contact person didapat dari Arie, senior di GPA via Milist. Mas Karman, yang merupakan teman dari Ari ternyata tidak berada di lombok. Beliau bekerja di pulau sebelahnya, Sumbawa dan kemungkinan tidak bisa menemani selama saya di lombok. Akhirnya diberikan kontak baru oleh Mas Karman, Mas Imam, yang juga ternyata masih teman dari senior di GPA. Kelak sampai saya pulang kembali ke bandung, saya belum sempat bertemu beliau. Beliau masih tinggal di lombok dan bersedia membantu kelancaran proses pendakian. Saya diarahkan untuk datang saja ke Sekretariat Mapala Fakultas Ekonomi Universitas Mataram, disana saya bisa bermalam dan mengurus persiapan pendakian.

Hari terakhir Tour Lombok FTIP, saya berpisah dengan rombongan ditempat kami makan siang. Kebetulan saja ada alumni teknotan yang bekerja di lombok Kang Doel ’95 yang merupakan kakak dari teman satu angkatan dan Kang Gun ’96, dan memang saya kenal dengan keduanya, jadi saya ikut beliau berdua untuk sementara. Setelah mengunjungi pabrik atau mungkin untuk saat ini masih gudang penyimpanan Garuda food dimana keduanya bekerja dan rumah kediaman Kang Doel, saya diantar hingga Fakultas Ekonomi Unram, oleh rekan dari Kang Gun, Daniel. Untuk ketiganya saya ucapkan terimakasih, maafkan bila selama di lombok saya merepotkan.
(more…)

Sebelum melakukan pemindahan siapkan terlebih dahulu media tanam, bisa berupa arang, pakis yang dicacah kecil-kecil, Moss atau Akar kadaka. Kemudian media tanam tersebut dididihkan dalam air, fungsinya sendiri sebenarnya hanya untuk membunuh bakteri yang dapat merugikan  pertumbuhan bibit anggrek. Setelah itu didinginkan dan direndam dengan bakterisida dan fungisida sesuai dosis yang tertera pada petunjuk masing-masing bahan tersebut selama satu jam (saya menggunakan akar kadaka sebagai media sehingga tidak terlalu lama, untuk media pakis supaya meresap kedalam dibutuhkan 6 jam hingga lebih ) , selain itu saya menambahkan pupuk agar dapat menggantikan nutrisi yang sebelumnya diperoleh dari media agar.

(more…)

Anoectochilus lowii R.H. Torr. ex Loudon 1840

The large and spectacular Jewel Orchid fromBorneo. A very rare species from the tropical jungles, a grower of the shady wet rainforest. Best grown in a shallow pot or tray, in a media that drains well but stays damp and not wet. When growing, warmth and high humidity are required, while in the cooler drier months, less water is needed. The intricately veined leaves will reach a length of 3 inches (8 cm) or so, to 3 inches ( 7.5cm) wide. The colourful sparkling veins on a dark background act as a light trap. Ideally suited to windowsill and terrarium culture.

(more…)

Macodes petola (Blume) Lindl. Dideskripsikan pertama kali oleh C.L. Blume sebagai Neottia petola pada tahun 1825 berdasarkan pada sistem penamaan binomial Rumphius ‘Folium petolatum’.

Tanaman ini merupakan Family Orchidaceae, dengan nama genus Macodes. Dari Genus macodes terdapat tujuh spesies yang tersebar dari Malaysia, Indonesia, New Guinea hingga Vanuatu. Tanaman ini ditemukan pada ketinggian 100 hingga 800 meter di atas permukaan laut, daerah lembahan hutan hujan yang sebagian tertutup bayangan pohon dan tumbuh pada bekas tanaman atau humus yang basah dan tanah dengan drainase yang baik.

Anggrek ini tidak seperti anggrek-anggrek lain yang dinikmati bunganya tetapi indah pada bagian daunnya. Spesies-spesies dari genus ini, seiring dengan genera-genera lain yang memiliki daun berwarna seperti Anoectochilus, Eucosia dan Goodyera disebut “Jewel Orchids”. Bisa terlihat bahwa daunnya berwarna hijau sedikit ungu gelap, memiliki urat-urat longitudinal berwarna emas yang berkilau (inflorescence) dan permukaan yang menyerupai beludru.

(more…)

Setelah berulangkali flashdisk ku kena virus yang dapat menyembunyikan folder (hidden)  dan menciptakan folder palsu yang ber ekstensi .exe, terpaksa browsing lagi bagaimana mengembalikan file atau folder yang di hidden oleh virus. Kali ini Flashdisk kena virus dengan nama W32/Bacalid, langsung terdeteksi oleh AntiVir dan dihapus.

Lalu untuk mengembalikan file/folder yang disembunyikan :

1. Lihat dulu di Eksplorer, drive flashdiskmu…misal E.

2. masuk ke Start > Run > ketik : cmd , lalu enter

3. setelah masuk ke command prompt, masuk ke drive flashdiskmu, misal E, ketik E:, enter

4. lalu setelah masuk E:, ketik : attrib -R -S -H /S /D , lalu enter.

5. Tunggu sampai selesai, refresh eksplorermu.

File dan folder yang tersembunyi akan kembali lagi.

Next Page »